Pilihlah satu kata yang menggambarkan panasnya/gerahnya musim panas di Jepang!
A. Mushi-mushi
B. Kara-kara
C. Teka-teka
Kirim jawaban sampai akhir Agustus ke Radio Jepang NHK World Kotak Pos 1245 Jakarta Pusat 10012 atau Indonesian Section Radio Jepang NHK World Tokyo 150-8001 Japan atau melalui situs www.nhk.or.jp/indonesian
Studi mendapati resiko kanker lebih tinggi di dekat pemancar ‘usang’ Vatican Radio
AFP, 14 July 1010,
“Suatu studi atas perintah pengadilan mendapati gelombang elektromagnetik yang diarahkan dari Vatican Radio menempatkan penduduk yang tinggal dekat dengan antena stasiun itu pada resiko kanker lebih tinggi, media Italia mengatakan hari Rabu. ... Juru bicara Vatikan mengatakan Tahta Suci akan segera mempublikasikan kesimpulan pakarnya sendiri dalam kasus ini.”
BBC News, 14 July 2010, David Willey: “Ada kaitan dan hubungan signifikan antara radiasi antena Vatican Radio dan kanker pada anak-anak, para periset mengatakan. Pakar Italia melihat tingginya jumlah tumor dan leukimia pada anak-anak yang tinggal dekat dengan pemancar Vatican Radio. 60 antena berdiri di desa-desa dan kota-kota dekat Roma. Vatikan mengatakan hal itu mengherankan dan akan mempresentasikan pendapat berlawanan di sebuah pengadilan Roma. ... Sekitar 60 antena baja yang tinggi berdiri di tanah pertanian milik Vatican. Mereka memancarkan acara Vatican Radio ke seluruh dunia melalui medium dan shortwave. Akan tetapi, sebagian besar teknologi itu sekarang telah usang, karena stasiun radio katolik di banyak negara menyiarkan kembali show Vatican Radio setelah mengambilnya dari internet.” -- Dan di banyak negara, stasiun lokal tidak menyiarkan kembali acara Vatican Radio.
Radio Business Report, 14 July 2010:
“Direktur radio, Federico Lombardi (mengatakan), ‘Vatican Radio selalu mematuhi petunjuk internasional tentang emisi elektromagnetik dan sejak 2001 telah mematuhi norma lebih ketat yang ditentukan Italia untuk menghilangkan keprihatinan penduduk di dekatnya.’ Berbicara di Vatican Radio, ia mengatakan: 'Menurut literatur ilmiah internasional tentang masalah tersebut, adanya hubungan secara kebetulan seperti itu, rupanya disimpulkan menurut laporan yang belum pernah dibuktikan.'”
(Sumber: www.kimandrewelliott.com)
VOA bahasa Spanyol ke Kuba pada era Apollo, “lebih baik dari sekarang” dan cerita-cerita shortwave lainnya
National Catholic Register, 14 July 2010, Victor Gaetan:
“Oswaldo Paya Sardinas adalah pendiri Proyek Varela, upaya demokrasi yang paling powerful dalam sejarah Kuba akhir-akhir ini. 'Ayah saya memiliki sebuah radio trans-Atlantik, shortwave, yang dijual untuk keperluan militer. Ibu saya biasa mendengar Voice of America setiap hari. Saya masih mengingat nama-nama penyiarnya. Ada banyak informasi. Saya mendengar peluncuran Apollo, pelaporan yang sangat bagus. ... Stasiun radio tersebut biasa memenuhi kami dengan banyak emosi - itu lebih baik dari sekarang. Saya ingin mengatakan bahwa mereka selalu netral. Pada 1960an dan 1970an, pesan sebuah bangsa: dengan materi sejarah, olahraga, kebudayaan dan sangat cakap menyampaikan informasi dengan deskripsi yang unggul.” -- Lebih baik dari sekarang mungkin berarti VOA Spanish Service lebih baik dari Radio Marti sekarang.
Euronews, 15 July 2010, Pablo Pacheo mengatakan berbicara kepada euronews:
“Bukti kesalahan saya menurut pemerintah Kuba adalah kepemilikan saya untuk sebuah mesin ketik 1950an, tape recorder, pen, fax, lembaran kertas putih, buku-buku - sebagian besar tentang jurnalisme - sebuah radio shortwave.”
The Newton Kansan, 6 July 2010, James A. Marples:
“Ketika saya muda, saya mendengarkan radio shortwave dan menulis kepada Radio Nederland dan Radio Moskow meminta kartu QSL. Surat-surat pos yang saya terima dari Republik Sosialis Uni Soviet saat itu, selama Perang Dingin semuanya terbuka dan tanpa segel. Jelas sekali surat-surat itu disensor dan pihak berwenang memastikan saya bukan mata-mata.”
Times-Herald (Vallejo, CA), 3 July 2010, Kenneth Zadwick:
“Minat saya pada radio ham kembali ke tahun 1939 ketika saya berjalan pulang ke rumah dari bioskop dan melihat peralatan dalam jumlah besar melalui jendela sebuah ruang bawah tanah. Setelah memberitahu ayah, saya berpikir menemukan seorang mata-mata, ia menjelaskan tentang radio ham dan menyetel radio shortwave, saya kecantol. (Sumber: www.kimandrewelliott.com)
(PRAGUE/WASHINGTON) 4 Juli 1950, Radio Free Europe mengudara untuk
pertama kalinya dengan siaran ke Czechoslovakia dari studio di Empire
State Building New York City. Memulai siaran dengan janji menyampaikan
berita “dalam tradisi Amerika yang bebas bicara.”
4 Juli kali ini, tepat 60 tahun kemudian, RFE/RL menjangkau hampir 20
juta orang dalam 28 bahasa dan 21 negara termasuk Russia, Belarus,
Iran, Iraq, Afghanistan dan Pakistan. Tetap menjadi jalur penghubung
bagi orang-orang yang tinggal di zona perang dan di bawah pemerintah
otoriter yang mencari berita serta informasi akurat dan terpercaya.
Misi kami sangat penting. -- Presiden RFE/RL Jeffrey Gedmin.
Menlu AS Hillary Clinton mengatakan dalam suatu kunjungan ke markas
besar RFE/RL di Prague, “RFE/RL adalah kekuatan yang cerdas.”
The Early Years
Akhir 1954, RFE dan Radio Liberty (RL) melakukan siaran dalam 25
bahasa ke Eropa Timur dan Uni Soviet. Menyajikan “megaphone” dibalik
Tirai Besi melalui para pembangkang -- menolak akses normal ke lokal
media -- yang dapat menjangkau jutaan orang sebangsa tanpa
penyensoran. Bertahun-tahun kemudian, ketika ditanya apakah RFE/RL
memainkan peranan signifikan dalam perjuangan Polandia untuk
kebebasan, penerima Nobel Lech Walesa menjawab, “akankah ada bumi
tanpa matahari?”
Coming of Age
Pada 1968, selama masa periode 7 bulan liberalisasi politik di
Czechoslovakia yang dikenal sebagai Prague Spring, RFE adalah sumber
berita independen yang sangat diperlukan. Dengan kekuasaan Soviet
berada di puncaknya dan pembangkang di bawah tekanan kuat sepanjang
1970 dan 1980-an, misi RFE/RL bertambah penting.
Sebagai mantan presiden Czech Vaclav Hayel mengatakan, “Sepanjang
tahun komunisme, RFE/RL memberikan satu-satunya kesempatan untuk
kebebasan bertukar informasi, kebebasan jurnalisme, dan juga
satu-satunya, atau agaknya, sumber informasi utama bagi komunikasi
antara oposisi dan rakyat. Saya percaya masyarakat kami berhutang budi
yang sangat besar kepada RFE/RL atas peran yang dimainkannya di negara
kami.”
Salah satu indikator kesuksesan RFE/RL selalu sejauh mana pemerintah
otoriter berupaya mengganggu siarannya. Pada 1981, sebuah bom
menyerang markas besar RFE/RL di Munich, melukai beberapa karyawan dan
mengakibatkan kerugian sebesar 2 juta dollar. Arsip polisi rahasia
yang dibuka setelah 1989 mengungkapkan serangan itu diperintahkan
pemimpin Romania Nicolae Causescu dan dilakukan teroris Carlos the
Jackal.
Ketika bencana nuklir Chernobyl terjadi pada 1989, media Soviet
mencoba menyembunyikan bencana itu. Akan tetapi, dalam apa yang
disebut oleh sejarawan Arch Paddington sebagai “momen RFE/RL yang
paling bagus,” organisasi itu mencurahkan dari jam ke jam untuk kisah
bencana tersebut, menyediakan instruksi bagi pendengar berkenaan
dengan dekontaminasi makanan serta pakaian, dan petunjuk untuk
melindungi anak-anak dari radiasi.
A Continuing Mission
Pada 1994, ketika konflik Balkan meluas, RFE/RL memulai siaran ke
negara-negara bekas Yugoslavia. Selama kampanye udara NATO 1999,
RFE/RL merupakan satu-satunya stasiun yang mengudara pada malam hari
di Serbia. Laporan langsung dari Belgrade, Brussel dan seluruh wilayah
adalah satu-satunya sumber informasi untuk orang-orang yang mencari
berita pengeboman dan informasi keselamatan.
Dalam 15 tahun ini, RFE/RL memperluas jangkauannya ke Afghanistan,
Iran, Iraq dan Kaukasus Utara. Di Afghanistan Radio Azadi merupakan
outlet media terpopuler dan menerima lebih dari 15.000 pucuk “surat
penggemar” dari pendengar, beberapa diantaranya diperlihatkan di
Perpustakaan Konggres pada Maret 2010.
Di Iran, Radio Farda merupakan sumber informasi independen yang
berpengaruh --terutamanya online-- dan memainkan peranan penting
ketika terjadi tindakan keras pemerintah setelah pemilu presiden 2009
yang disengketakan.
Pada Januari 2010, RFE/RL meluncurkan stasiun baru berbahasa Pashto
untuk wilayah kesukuan Pashtun Pakistan guna memberikan alternatif
atas berkembangnya stasiun ekstrimis di wilayah itu. Dan 2 tahun
sebelumya, RFE/RL memulai siaran harian berbahasa Russia ke wilayah
Georgia yang memisahkan diri, Osetia Selatan dan Abkhazia.
“Misi kami sangat penting,” kata Jeffrey Gedmin presiden RFE/RL.
“Meskipun teknologi berubah --kami menambah radio dengan konten
online, video dan televisi-- misi perwakilan siaran tetap sama.
Source: rferl.org
Copyright (c) 2010.
RFE/Rl, Inc. Reprinted with the permission of Radio Free Europe/Radio
Liberty, 1201 Connecticut Ave., N. W. Washington DC 20036.
Los Angles Downtown News, 1 July 2010:
“Japanese American National Museum hari ini mengumumkan pemutaran sebuah dokumentasi penyiar radio Jepang Amerika pada Perang Dunia II. Film Calling Tokyo akan ditayangkan pada 2 siang 10 Juli di museum. Menceritakan kisah peranan yang dimainkan orang Jepang Amerika sebagai penyiar pemerintah pada masa perang. Sementara pemerintah AS memenjarakan 120.000 orang Amerika keturunan Jepang selama perang, pemerintah juga merekrut sekelompok orang Jepang Amerika untuk menjadi bagian Kantor Informasi Perang (OWI) dan Misi Perang Politik Inggris (BPWM). OWI dan BPWM memproduksi siaran radio shortwave reguler dalam bahasa Jepang dengan harapan meyakinkan para pimpinan politik dan militer Jepang untuk menyerah.”
(Sumber: www.kimandrewelliott.com)
The Japan Times, 26 June 2010:
“Berita terbaru Aichi International Broadcasting Co. akan menghentikan layanan radio FM-nya pada akhir September karena defisit besar telah menyebabkan gelombang goncangan pada industri di wilayah Tokai. Radio-i yang berbasis di Nagoya, sebagaimana ia dikenal, adalah satu-satunya stasiun FM di Tokai yang menawarkan program-program dalam bahasa Inggris, Jepang, China, Korea, Portugis, Spanyol dan Tagalog. Mulai mengudara pada April 2000, melayani daerah administrasi Aichi, Gifu, Mie dan Shizuoka tapi telah menderita karena menurunnya pendapatan iklan. ... Firma tersebut akan mengembalikan izin siarannya dan melikuidasi diri pada akhir tahun. Biro Telekomunikasi Tokai mengatakan Radio-i akan menjadi yang pertama jatuh diantara stasiun televisi dan radio di Jepang, kecuali bagi stasiun FM berbasis komunitas kecil.” Di AS, stasiun radio etnik berbahasa asing umumnya tidak menjual spot iklan. Sebagai gantinya, mereka menjual waktu ke pembuat program berbahasa asing, yang sebaliknya menjual iklan mereka sendiri atau mencari bantuan keuangan dari pendengar atau yayasan, atau hanya melangsungkan program-programnya sebagai hobi yang mahal.
(Sumber: www.kimandrewelliott.com)