Jalan Penjajap Timur 3A Pemangkat 79453 Kalimantan Barat - Indonesia Telepon 0562-243873 HP.085654686895
Jumat, 24 Mei 2013
60 tahun DW
Radio: Dari gelombang pendek ke audio-on-demand
Tiga jam dalam bahasa Jerman di gelombang pendek: DW pertama kali mengudara dalam format radio ini pada 1953. 60 tahun kemudian DW menjadi sebuah organisasi multimedia, menyediakan informasi dalam 30 bahasa ke orang-orang di seluruh benua.
Orang-orang Jerman dan orang-orang yang memiliki akar Jerman merupakan target awal audiens Deutsche Welle. Sejak musim gugur 1954, DW juga menjangkau pendengar di luar negeri yang bahasa aslinya bukan bahasa Jerman – awalnya dengan berita dalam bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Portugis selama masing-masing 5 menit. Kemudian acara-acara tambahan segera menyusul. Pada tahun-tahun berikutnya diperluas menjadi dalam berbagai bahasa – mencapai 44 bahasa, termasuk Farsi untuk Iran, Turki, Spanyol untuk Amerika Latin, Portugis untuk Brazil, Russia, Polandia, Czech, Hunga, Arab, Kiswahili, Hausa, China, Indonesia dan Urdu. Acara-acara radio DW dalam berbagai bahasa telah membentuk imej broadcaster internasional Jerman selama beberapa dekade.
"Suara kebebasan "
Radio DW bersikap fleksibel terhadap perkembangan politik dan teknologi. Dalam berbagai krisis - dari "Prague Spring" 1968 atau pada masa kediktatoran di Yunani pada tahun 1970an sampai krisis di Afghanistan dan Iraq - DW memperoleh reputasi sebagai sebuah "suara kebebasan." Selanjutnya DW menambah siarannya guna memenuhi kebutuhan orang-orang di zona konflik dan perang. Pada 1992, saat terjadi perang di bekas Yugoslavia, DW meluncurkan program dalam bahasa Albania dan setahun sesudahnya diluncurkan siaran dalam bahasa Bosnia untuk membantu para pengungsi menemukan keluarga serta teman meraka yang hilang.
DW memberi perhatian khusus pada kursus bahasa dalam program radionya. "Belajar Bahasa Jerman bersama Deutsche Welle" dimulai pada October 1957 dalam 4 bahasa. Ini adalah awal kesuksesan format radio untuk belajar bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Sejak tahun 1970, lembaga kursus bahasa "Familie Baumann" mendorong orang-orang untuk belajar bahasa Jerman bersama DW. Kini DW menawarkan kelas virtual di Internet, yang memungkinkan interaktif baru bagi guru dan pelajar.
Sejalan dengan waktu
Hukum penawaran dan permintaan juga berlaku untuk siaran internasional. Pada 1998, DW menarik diri dari sejumlah pasar media dan menghentikan siaran gelombang pendek dalam bahasa Denmark, Norwegia, Belanda dan Italia. Namun demikian siaran bahasa Russia diperpanjang dan siaran bahasa Ukrainia diluncurkan pada tahun 2000, dan dimulai siaran untuk Belarus pada 2005. Meskipun DW mengakhiri siaran dalam bahasa Sansekerta ke Asia Selatan namun DW memulai siaran dalam bahasa Romany.
Pada akhir 1999, DW menghentikan siaran-siaran radionya dalam bahasa Jepang, Slovak, Slovene, Spanyol, Czech and Hungaria – sebuah keputusan yang diambil sebagai akibat dari pemotongan anggaran besar-besaran oleh pemerintah federal. Bahkan siaran bahasa Jerman di gelombang pendek berakhir pada 30 Oktober 2011. Sebagai gantinya sebuah website multimedia dalam bahasa Jerman yang memungkinkan pencari informasi mengakses konten kapanpun mereka inginkan, merupakan langkah terbaik untuk memenuhi kebutuhan audiens DW.
Gelombang pendek dan mobile
Arti penting gelombang pendek telah berkurang secara dramatis hampir di semua tempat akibat dari dominasi internet dan kemungkinan-kemungkinan peningkatan penerimaan radio. DW masih memiliki siaran di gelombang pendek ke negara-negara di Afrika sub-sahara dan sebagian Asia - dan meskipun audiens di kawasan ini menjadi lebih sedikit dan sedikit pula yang memantau gelombang pendek.
Pada saat yang sama terdapat peningkatan sebagian besarnya di kalangan orang muda yang menggunakan konten audio DW pada perangkat mobile. Konten audio tersebut tidak hanya memberikan kualitas suara yang lebih baik dari gelombang pendek namun juga memungkinkan interaksi dengan DW: para pengguna bisa berpartisipasi dalam acara-acara langsung dan menghubungi studio dengan sms, baik pertanyaan, saran atau kritik. DW telah menyesuaikan sejak dini terhadap perubahan zaman dengan persembahan online. DW merupakan broadcaster Jerman pertama yang memberikan layanan podcast untuk konten audio dan video. Para pengguna bisa mengakses sebagian program DW dalam 30 bahasa melalui perangkat mobile mereka di http://mobile.dw.de.
Di tengah perkembangan media yang begitu cepat, pada 2008 DW menggabungkan departemen radio dan online-nya menjadi tim editorial multimedia. Sebagian besar departemen DW bermarkas besar di Bonn yang memproduksi konten untuk radio dan website multimedia dw.de.
(sumber: www.dw.de) - هند
VOA Mengurangi Siaran Gelombang Pendek
Menyusul BBC World Service, VOA akan mengurangi siaran ke Iran, Albania, Georgia dan Amerika Latin dan juga siaran bahasa Inggris ke Timur Tengah dan Afghanistan. fghanistan.
(Sumber: Inside VOA)
WASHINGTON, D.C. — Voice of America mengurangi sejumlah transmisi radio mereka dan menghentikan siaran gelombang pendek ke kawasan-kawasan dimana pendengar memiliki cara alternatif untuk menerima berita dan program informasi dari VOA.
Pengurangan transmisi ini sejalan dengan pemangkasan anggaran yang diterapkankan serta untuk menghindari hilangnya pekerjaan para staf.
Mulai 31 Maret, siaran gelombang pendek dan menengah ke Albania, Georgia, Iran dan Amerika Latin serta siaran bahasa Inggris ke Timur Tengah dan Afghanistan akan dikurangi
VOA akan terus menyediakan berita dan informasi terkini bagi audiens di kawasan-kawasan tersebut melalui cara lain termasuk stasiun afiliasi radio dan TV, satelit, web streaming, situs mobile dan media sosial.
Pengurangan transmisi tersebut diperkirakan hanya akan mempunyai pengaruh kecil terhadap jumlah audiens karena cara penyampaian informasi lainnya tetap tersedia. Siaran-siaran gelombang pendek dan gelombang menengah akan terus berlanjut ke kawasan-kawasan yang banyak audiensnya dan ke negara-negara dimana tidak memungkinkan atau sulitdigunakan pemancaran signal dengan cara lain.
Sumber: swling.blog - هند
(Sumber: Inside VOA)
WASHINGTON, D.C. — Voice of America mengurangi sejumlah transmisi radio mereka dan menghentikan siaran gelombang pendek ke kawasan-kawasan dimana pendengar memiliki cara alternatif untuk menerima berita dan program informasi dari VOA.
Pengurangan transmisi ini sejalan dengan pemangkasan anggaran yang diterapkankan serta untuk menghindari hilangnya pekerjaan para staf.
Mulai 31 Maret, siaran gelombang pendek dan menengah ke Albania, Georgia, Iran dan Amerika Latin serta siaran bahasa Inggris ke Timur Tengah dan Afghanistan akan dikurangi
VOA akan terus menyediakan berita dan informasi terkini bagi audiens di kawasan-kawasan tersebut melalui cara lain termasuk stasiun afiliasi radio dan TV, satelit, web streaming, situs mobile dan media sosial.
Pengurangan transmisi tersebut diperkirakan hanya akan mempunyai pengaruh kecil terhadap jumlah audiens karena cara penyampaian informasi lainnya tetap tersedia. Siaran-siaran gelombang pendek dan gelombang menengah akan terus berlanjut ke kawasan-kawasan yang banyak audiensnya dan ke negara-negara dimana tidak memungkinkan atau sulitdigunakan pemancaran signal dengan cara lain.
Sumber: swling.blog - هند
Direktur Umum DW Erik Bettermann: "Deutsche Welle memastikan keberadaan multimedia Jerman"
Broadcaster internasional Jerman Deutsche Welle (DW) telah berdialog dengan dunia selama 60 tahun. Sejak hari pertama mengudara, DW telah berubah dari broadcaster gelombang pendek menjadi organisasi multimedia.
"Dengan konten jurnalistiknya dalam 30 bahasa, DW memastikan kehadiran multimedia Jerman di dunia, " kata Erik Bettermann, Direktur Umum Deutsche Welle. Dia menammbahkan bahwa persaingan untuk meraih audiens global semakin sengit karena produk media yang berkembang pesat, khususnya di bidang televisi. 20 tahun lalu hanya ada 3 program TV internasional berbahasa Inggris; sekarang hampir 30. "Jerman memerlukan adanya media internasional yang kokoh untuk menyampaikan sikapnya," lanjut Bettermann. "dan Deutsche Welle memainkan peran krusial dalam hal ini."
Dalam tahun-tahun pertama berdirinya misi DW adalah untuk mengingkatkan pengetahuan akan Jerman sebagai negara demokratis ke seluruh dunia dan mengantarkan reintegrasi negara itu ke dalam komunitas internasional. Kini DW berperan "membangun pemahaman antara orang dan peradaban" berkontribusi dalam membangun masyarakat sipil global.
Dengan berbagai konten multimedianya, DW menyampaikan “pengalaman masyarakat Jerman," kata Bettermann. "Kredibilitas DW diperkuat oleh kebesarannya, penggambaran Jerman dari berbagai sisi.”
Bettermann menekankan bahwa pendekatan terbuka dalam menghadapi masa lalunya dipuji di seluruh dunia – seperti melaporkan dengan kritis topik-topik seperti pembunuhan yang dilakukan sel neo Nazi National Socialist Underground (NSU) dan pengadilan kasus ini. Sementara itu pada masa krisis ekonomi saat ini di Eropa, DW dapat membantu dalam menjelaskan pandangan Jerman melalui laporan-laporannya dalam berbagai bahasa lokal, misalnya bahasa Yunani.
Membentuk imej Jerman
"Deutsche Welle telah menyertai Republik Fedearal Jerman dalam seluruh sejarah pentingnya, seperti kisah sukses reunifikasi sampai hal-hal yang menakjubkan dan kadang yang memprihatinkan dunia. Dan DW menyampaikan kepada dunia bahwa Jerman berbuat sebaik mungkin dengan menghormati sejarahnya ketika berkomunikasi dengan para petnernya di seluruh dunia. Dengan upaya-upaya jurnalistiknya DW telah mempengaruhi imej Jerman dan secara aktif membentuknya. Pada saat yang sama, DW selalu memperlihatkan bagaimana Dunia melihat Jerman.”
Keberlanjutan pengembangan siaran-siaran bahasa yang diudarakan sejak 1960an, peluncuran program TV satelit pada 1992, awal mula menuju dunia online dimulai pada 1994 dan penggabungan semua program training di bawah payung DW Akademie pada 2004 – ini semua menjadi tonggak bagi DW untuk menjadi korporasi multimedia, menurut Bettermann. Pada awal 2012 DW melakukan peluncuran kembali program TV dan websitenya.
Lebih dari sekedar berita
Selain menyampaikan berita, Bettermann melihat budaya dan pendidikan sebagai bidang utama tanggung jawab DW – khususnya jika hal itu berkaitan dengan promosi bahasa Jerman. DW Akademie merupakan organisasi Jerman terkemuka bagi perkembangan media internasional. Sebagai contoh, organisasi itu mendukung broadcaster-broadcaster yang dimiliki pemerintah dalam transisinya menjadi media independen di Tunisia, Libya dan Mesir. Di samping menawarkan jurnalisme DW Akademie juga mempromosikan kebebasan media dan kebebasan berbicara di banyak negara lain. Seperti kata Bettermann , "kami memberi suara kepada mereka yang mengalami penyensoran dan penindasan di tanah air mereka." Dalam hal ini Deutsche Welle juga melihat dirinya sendiri sebagai suara bagi hak asasi manusia.
Perayaan resmi pada 17 Juni
DW akan merayakan hari jadinya pada 17 Juni 2013 di Bonn dengan sebuah upacara pada Global Media Forum. Lebih dari 2.000 peserta dari lebih 100 negara diperkirakan akan menghadiri konferensi tiga hari di World Conference Center di Bonn. Bernd Neumann, menteri negara urusan budaya dan media, akan menyampaikan pidato berjudul "60 Tahun Deutsche Welle – Masa Depan Broadcaster Internasional: Nilai-nilai bagi Dunia yang Mengglobal." Lutz Marmor akan berbicara mewakili Asosiasi Korporasi Penyiaran Publik di Jerman (ARD) dan dalam kapasitasnya sebagai kepala ARD and Direktur General of Norddeutscher Rundfunk (NDR).
Spesial online
Dalam perayaan hari jadinya DW mempersembahkan tonggak 60 tahun sejarahnya dalam artikel, gambar dan materi audio. Dolumenter TV selama 30 menit menyajikan ikhtisar perkembangan dan misi DW sebagai broadcaster internasional Jerman.
Sekilas info dari Buletin Pendengar
Berhubung kesibukan belum berkurang, kami mohon ma’af sebesar-besarnya, sampai saat ini Bulan November 2012, belum bisa diterbitkan kembali. Memenuhi usul dan saran dari teman-teman anggota BP, di tengah-tengah kesibukan, kami berusaha menerbitkan “Lembaran Info” mulai bulan April 2013 ini. Bila teman-teman mempunyai info, bisa dikirim ke alamat BP:
PO. BOX 4192 JKTJ Jakarta Timur 13341, atau
email: editorbp30@yahoo.com, atau
melalui SMS 0852 8228 2227
PO. BOX 4192 JKTJ Jakarta Timur 13341, atau
email: editorbp30@yahoo.com, atau
melalui SMS 0852 8228 2227
Minggu, 28 April 2013
Goodbye Radio Konvensional, Welcome Radio Internet!
TEKNOLOGI semakin maju. Dulunya orang
mendengarkan radio mesti saklek menyanding sebuah radio tape. Lalu
kebiasaan orang sedikit berubah. Lihat saja data Jacobs Media’s Tech
Survey di Amerika Serikat: sebanyak 53% siaran radio didengarkan di
dalam mobil. Bagi yang bermobil tentu mengangguk-angguk dengan fakta
ini, ‘kan?
Kecanggihan lebih lanjut, kini kita bisa menyambungkan smartphone
ke speaker mobil. Jika bosan dengan siaran radio dalam negeri, bisa coba
menikmati siaran luar negeri. Kita tinggal memilih radio internet yang
akan kita dengarkan. Terbukti, ‘kan ragam cara orang mendengarkan radio
kian canggih dan praktis?
Mendengarkan radio internet ini perlahan akan menjadi tren. Antara
lain karena kita bisa mendengar radio melampaui batas negara, di mana
saja. Hebatnya, baik Denny Sakrie (penyiar radio), Rudyanto (program
director sekaligus pendiri Berisik Radio), dan Waizly (Chief Operations
Marketeers Radio), kompak menyatakan, radio internet tidak akan
menyingkirkan radio konvensional. Tapi malah berdampingan. Misalnya
saja, Berisik Radio dan Marketeers Radio yang beberapa kali bekerja sama
dengan radio konvensional.
Denny bertutur, karena jangkauan radio internet yang lebih luas,
ada baiknya memang dimanfaatkan untuk berbagi informasi semaksimal
mungkin. “Mau enggak mau kemajuan teknologi harus kita manfaatkan. Radio
konvensional selalu punya pesona tersendiri. Streaming hanyalah
menawarkan cara lain dalam mendengarkan radio.”
Wawancara Radio Australia
Basoeki Koesasi, berbincang dengan reporter Erwin Renaldi (Foto: Tito Ambyo). (Credit: ABC)
Audio:
Basoeki Koesasi berpesan agar kita selalu tanggap terhadap perubahan jaman yang cepat
Radio Australia: Apa yang pertama kali membuat Pak Bas begitu bersemangat untuk mengajari Bahasa Indonesia?
Basoeki Koesasi (Pak Bas): Pada mulanya, saya baru tiba di Australia, tidak banyak orang yang tahu tentang Indonesia. Orang tahunya hanya Bali, bukan Indonesia. Oleh karena itu saya seperti mendapat tantangan untuk mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia. Kalau tinggal di luar negeri itu: lebih jauh dari Indonesia, lebih dekat kita dengan Indonesia. Karena itu, saya cukup senang mengajarkan bahasa, budaya Indonesia yang bagian dari hidup saya, dibayar orang lagi, hahaha, jadilah saya kerja di universitas (sebagai dosen).
Tapi yang paling saya tekankan kepada warga Australia adalah mengingatkan agar mereka harus punya rasa tenggang rasa dengan tetangga mereka. Nah kalau saya menjelaskan soal budaya dan bangsa Indonesia dengan cara mereka, bukan dengan cara saya. Dan buktinya berhasil.
Anda lihat sendiri kan, semua bekas mahasiswa saya, hampir semua, berhasil. Greg Barton, berhasil, Julian Millie berhasil, David Hanan. David Hanan itu tokoh Monash yang cukup dikenal di Indonesia di dunia perfilman. Saya membantu dia untuk membuat subtitle dari film-film Indonesia. Bahkan film yang kuno sekali. Harimau Tjampa, atau Si Pitung. Oleh karena itu, kami kerjasama tidak hanya berdasarkan pengalaman, tapi pengetahuan tentang budaya, dan ada rasa peka terhadap budaya orang lain.
RA: Dengan kata lain, bahwa bahasa ini juga sebenarnya bisa membantun hubungan Indonesia dan Australia?
Pak Bas: Sudah pasti itu, kita kan hidup di dunia komunikasi sangat cepat sekali. Kalau ada salah komunikasi, karena tidak saling mengetahui, tidak saling mengerti, terutama komunikasi yang berbeda budaya, akan mengganggu hubungan antara dua negara. Saya tekankan bahwa filsafat pengajaran bahasa Indonesia itu harus bersama-sama dengan budaya, tidak bisa dipisahkan sama sekali.
RA: Apakah Anda yakin generasi muda di Australia memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari bahasa Indoensia? Karena dari beberapa laporan malah mengatakan minat menurun.
Pak Basi: Menurut saya ini masalah yang sudah biasa terjadi. Kalau saya mau menyalahkan, salahkan keadaan ekonomi dunia. Ini disebabkan karena para mahasiswa yang saya tahu di universitas atau di sekolah, hanya memikirkan tentang masa depan ekonomi mereka. Dan mereka tidak melihat bahwa belajar bahasa dan budaya orang lain itu akan membantu mereka untuk meningkatkan kehidupan ekonomi mereka.
Mereka harus tahu bahwa masa depan mereka itu di negara tetangga mereka, terutama Indonesia. Kalau mereka tidak mengerti bahasa budaya mereka, akan sulit untuk mereka untuk maju. Apalagi nanti Indonesia akan menjadi salah satu dari sepuluh negara top bisnis di dunia.
Satu lagi yang jadi kendala buat mereka adalah jika kita tidak mengubah cara mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia dengan lebih efisien, interaktif, dengan lebih [menggunakan] media-media yang sangat cepat. Bahan pelajaran itu harus kita sesuaikan. Bahkan kita harus bisa mengajarkan jarak jauh, yaitu mengirim bahan-bahan melalui internet.”
RA: Di Indonesia sendiri generasi muda mempelajari Bahasa Indonesia. Tapi tetap saja ada kecenderungan bahwa akhirnya kita lupa akan identitas sebagai orang Indonesia. Bagaimana Anda melihat ini?
Pak Bas: Ya ini juga satu yang sudah saya pikirkan juga, banyak orang yang sudah lupa dengan penggunaan bahasa kita, budaya kita. Karena banyaknya media dan informasi yang masuk ke Indonesia dan mempengaruhi sistem budaya dan komunikasi kita antara satu dan yang lainnya.
Memang sulit, dan kita harus hadapi dengan kiat yang tadi saya sebutkan, kita harus mengikuti cara "mereka". Kalau cara yang paling cepat adalah menggunakan sistem yang mereka kenal, nah itu yang kita pakai. Apakah melalui twitter, facebook, kenapa enggak? Kita harus mengakui itu kenyataan sekarang.”
RA: Kalau kita bandingkan masa lalu dengan yang akan datang, apakah sudah ada perbedaan dalam hal warga Australia memandang Indonesia, dan sebaliknya?
Pak Bas: Tentu ada perbedaan, karena sekarang segala sesuatu sudah sangat cepat sekali, ada Facebook, Twitter, You Tube. Oleh karena itu, jangan melawan arus, tapi tetap dalam koridor, ini bangsa kita, ini jati diri kita, ini yang harus dipelajari, ini yang harus dibanggakan, ini yang yang kurang ditekankan.
Sedangkan orang-orang dari luar negeri berusaha mempelajari Indonesia, kok kita tidak mempelajari tentang diri kita sendiri. Kadang saya malu kalau teman-teman dari Indonesia ditanya oleh orang Australia, tapi kemudian tidak bisa menjawab karena tidak tahu. Mereka lebih tahu informasi tentang luar negeri daripada negara Indonesia sendiri.
Tapi saya juga sedikit lega mendengar ada usaha dari pemerintah untuk memperkenalkan kembali pelajaran budaya, pelajaran budi pekerti dan sejenisnya agar anak-anak kita tidak selalu terpengaruh dengan apa yang mereka lihat di media massa, atau sibuk dengan hal-hal yang tidak ada gunanya dengan mereka.
RA: Mungkin ada diantara warga Indonesia yang mendambakan posisi Anda sebagai dosen di luar negeri, bisa mengajar di luar negeri, ada tipsnya?
Pak Bas: Sebenarnya gampang saja, kita harus punya komitmen. Saya ingin mengabdi kepada bangsa kita dengan mengajarkan bahasa dan budaya. Seandainya kita bisa tekankan itu setiap hari, maka jadilah suatu pengabdian kepada bangsa kita dan pasti akan bisa berhasil.
Kita juga harus berusaha menampung semua dan belajar menerima perbedaan, bukan melawannya. Justru, dengan mempelajari, mengenal, dan mengetahui perbedaan, kita bisa menyampaikan kepada warga asing.
Saya tidak langsung satu hari bisa jadi guru, mengajar, atau terlibat dalam berbagai kegaiatan yang ada hubungannya dengan Australia. Saya belajar dulu tentang orang Australia., ingin memahami cara berpikir mereka, berusaha dengan sabar untuk menjelaskan dan menerima cara berpikir perbedaan.
RA: Anda pernah mendapatkan penghargaan tertinggi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ya kan?
Pak Bas: Di tahun 2010, yaitu penghargaan bintang jasa pratama, jadi First Class Service untuk pengorbanan dan dedikasi kepada bangsa dan negara Indonesia melalui pendidikan dan kebudayaan.
RA: Sudah puaskah Anda dengan apa yang capai saat ini?
Pak Bas: Kalau mimpi masih banyak sekali, tapi sementara saya cukup menerima apa yang saya dapatkan. Saya juga sudah mulai berumur dan harus tahu diri. Tapi bukan berarti saya berhenti untuk mendorong teman-teman Australia agar lebih tahu tentang budaya dan bangsa saya (Indonesia).
Basoeki Koesasi (Pak Bas): Pada mulanya, saya baru tiba di Australia, tidak banyak orang yang tahu tentang Indonesia. Orang tahunya hanya Bali, bukan Indonesia. Oleh karena itu saya seperti mendapat tantangan untuk mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia. Kalau tinggal di luar negeri itu: lebih jauh dari Indonesia, lebih dekat kita dengan Indonesia. Karena itu, saya cukup senang mengajarkan bahasa, budaya Indonesia yang bagian dari hidup saya, dibayar orang lagi, hahaha, jadilah saya kerja di universitas (sebagai dosen).
Tapi yang paling saya tekankan kepada warga Australia adalah mengingatkan agar mereka harus punya rasa tenggang rasa dengan tetangga mereka. Nah kalau saya menjelaskan soal budaya dan bangsa Indonesia dengan cara mereka, bukan dengan cara saya. Dan buktinya berhasil.
Anda lihat sendiri kan, semua bekas mahasiswa saya, hampir semua, berhasil. Greg Barton, berhasil, Julian Millie berhasil, David Hanan. David Hanan itu tokoh Monash yang cukup dikenal di Indonesia di dunia perfilman. Saya membantu dia untuk membuat subtitle dari film-film Indonesia. Bahkan film yang kuno sekali. Harimau Tjampa, atau Si Pitung. Oleh karena itu, kami kerjasama tidak hanya berdasarkan pengalaman, tapi pengetahuan tentang budaya, dan ada rasa peka terhadap budaya orang lain.
RA: Dengan kata lain, bahwa bahasa ini juga sebenarnya bisa membantun hubungan Indonesia dan Australia?
Pak Bas: Sudah pasti itu, kita kan hidup di dunia komunikasi sangat cepat sekali. Kalau ada salah komunikasi, karena tidak saling mengetahui, tidak saling mengerti, terutama komunikasi yang berbeda budaya, akan mengganggu hubungan antara dua negara. Saya tekankan bahwa filsafat pengajaran bahasa Indonesia itu harus bersama-sama dengan budaya, tidak bisa dipisahkan sama sekali.
RA: Apakah Anda yakin generasi muda di Australia memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari bahasa Indoensia? Karena dari beberapa laporan malah mengatakan minat menurun.
Pak Basi: Menurut saya ini masalah yang sudah biasa terjadi. Kalau saya mau menyalahkan, salahkan keadaan ekonomi dunia. Ini disebabkan karena para mahasiswa yang saya tahu di universitas atau di sekolah, hanya memikirkan tentang masa depan ekonomi mereka. Dan mereka tidak melihat bahwa belajar bahasa dan budaya orang lain itu akan membantu mereka untuk meningkatkan kehidupan ekonomi mereka.
Mereka harus tahu bahwa masa depan mereka itu di negara tetangga mereka, terutama Indonesia. Kalau mereka tidak mengerti bahasa budaya mereka, akan sulit untuk mereka untuk maju. Apalagi nanti Indonesia akan menjadi salah satu dari sepuluh negara top bisnis di dunia.
Satu lagi yang jadi kendala buat mereka adalah jika kita tidak mengubah cara mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia dengan lebih efisien, interaktif, dengan lebih [menggunakan] media-media yang sangat cepat. Bahan pelajaran itu harus kita sesuaikan. Bahkan kita harus bisa mengajarkan jarak jauh, yaitu mengirim bahan-bahan melalui internet.”
RA: Di Indonesia sendiri generasi muda mempelajari Bahasa Indonesia. Tapi tetap saja ada kecenderungan bahwa akhirnya kita lupa akan identitas sebagai orang Indonesia. Bagaimana Anda melihat ini?
Pak Bas: Ya ini juga satu yang sudah saya pikirkan juga, banyak orang yang sudah lupa dengan penggunaan bahasa kita, budaya kita. Karena banyaknya media dan informasi yang masuk ke Indonesia dan mempengaruhi sistem budaya dan komunikasi kita antara satu dan yang lainnya.
Memang sulit, dan kita harus hadapi dengan kiat yang tadi saya sebutkan, kita harus mengikuti cara "mereka". Kalau cara yang paling cepat adalah menggunakan sistem yang mereka kenal, nah itu yang kita pakai. Apakah melalui twitter, facebook, kenapa enggak? Kita harus mengakui itu kenyataan sekarang.”
RA: Kalau kita bandingkan masa lalu dengan yang akan datang, apakah sudah ada perbedaan dalam hal warga Australia memandang Indonesia, dan sebaliknya?
Pak Bas: Tentu ada perbedaan, karena sekarang segala sesuatu sudah sangat cepat sekali, ada Facebook, Twitter, You Tube. Oleh karena itu, jangan melawan arus, tapi tetap dalam koridor, ini bangsa kita, ini jati diri kita, ini yang harus dipelajari, ini yang harus dibanggakan, ini yang yang kurang ditekankan.
Sedangkan orang-orang dari luar negeri berusaha mempelajari Indonesia, kok kita tidak mempelajari tentang diri kita sendiri. Kadang saya malu kalau teman-teman dari Indonesia ditanya oleh orang Australia, tapi kemudian tidak bisa menjawab karena tidak tahu. Mereka lebih tahu informasi tentang luar negeri daripada negara Indonesia sendiri.
Tapi saya juga sedikit lega mendengar ada usaha dari pemerintah untuk memperkenalkan kembali pelajaran budaya, pelajaran budi pekerti dan sejenisnya agar anak-anak kita tidak selalu terpengaruh dengan apa yang mereka lihat di media massa, atau sibuk dengan hal-hal yang tidak ada gunanya dengan mereka.
RA: Mungkin ada diantara warga Indonesia yang mendambakan posisi Anda sebagai dosen di luar negeri, bisa mengajar di luar negeri, ada tipsnya?
Pak Bas: Sebenarnya gampang saja, kita harus punya komitmen. Saya ingin mengabdi kepada bangsa kita dengan mengajarkan bahasa dan budaya. Seandainya kita bisa tekankan itu setiap hari, maka jadilah suatu pengabdian kepada bangsa kita dan pasti akan bisa berhasil.
Kita juga harus berusaha menampung semua dan belajar menerima perbedaan, bukan melawannya. Justru, dengan mempelajari, mengenal, dan mengetahui perbedaan, kita bisa menyampaikan kepada warga asing.
Saya tidak langsung satu hari bisa jadi guru, mengajar, atau terlibat dalam berbagai kegaiatan yang ada hubungannya dengan Australia. Saya belajar dulu tentang orang Australia., ingin memahami cara berpikir mereka, berusaha dengan sabar untuk menjelaskan dan menerima cara berpikir perbedaan.
RA: Anda pernah mendapatkan penghargaan tertinggi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ya kan?
Pak Bas: Di tahun 2010, yaitu penghargaan bintang jasa pratama, jadi First Class Service untuk pengorbanan dan dedikasi kepada bangsa dan negara Indonesia melalui pendidikan dan kebudayaan.
RA: Sudah puaskah Anda dengan apa yang capai saat ini?
Pak Bas: Kalau mimpi masih banyak sekali, tapi sementara saya cukup menerima apa yang saya dapatkan. Saya juga sudah mulai berumur dan harus tahu diri. Tapi bukan berarti saya berhenti untuk mendorong teman-teman Australia agar lebih tahu tentang budaya dan bangsa saya (Indonesia).
Mengembangkan peranan penyiaran radio dalam kehidupan
(VOVworld)
– Sebelum teknologi multi-media berkembang, Radio merupakan instrumen
yang paling efektif untuk menyampaikan informasi-informasi harian kepada
semua orang. Pada masa kini, ketika teknologi berkembang, banyak ragam
komunikasi telah lahir, radio tetap memainkan peranan tertentu dalam
kebutuhan mengetahui informasi rakyat.
Pemancar gelombang radio
(Foto: nienlich.vn)
Lahir
pada 1945, dengan peranan sebagai organ pemberitaan yang penting dari
Partai Koomunis dan Negara Vietnam, Radio Suara Vietnam (VOV) merupakan
instrumen yang menyampaikan semua fikiran dan keinginan rakyat kepada
Partai Komunis dan Negara. Pada tahun-tahun perang perlawanan, pesawat
radio dan sistim radio di basis telah memberikan sumbangan yang tidak
kecil untuk mendorong semangat juang dari tentara dan rakyat Vietnam.
Dari berbagai pengeras suara dan pesawat radio ini, berita tentang
kemenangan pada musim Semi 1975 telah disiarkan ke mana-mana. Bersamaan
dengan perkembangan Tanah Air, dewasa ini, VOV adalah kantor pemberitaan
satu-satunya yang menghimpun cukup 4 ragam komunikasi yaitu: Radio,
televisi, koran cetakan dan koran elektronik. Gelombang siaran VOV telah
hadir di 99,5% wilayah Vietnam dan hampir semua wilayah laut Vietnam di
Laut Timur, dengan total durasi penyiaran lebih dari 200 jam per hari.
Gedung Pusat Penyiaran Radio Suara Vietnam
(Foto: vov.vn)
Deputi Menteri Luar Negeri Vietnam Nguyen Thanh Son mengatakan: “VOV
dengan katakata “Inilah Radio Suara Vietnam yang disiarkan langsung
dari Hanoi, ibukota Republik Sosialis Vietnam” merupakan kebanggaan dan
tekad dari Partai Komunis dan Pemerintah Vietnam. VOV adalah suara
kampung halaman dan Tanah Air. Ini merupakan kantor komunikasi negara
yang resmi, adalah satu kantor yang punya sejarah yang tebal dan tradisi
yang sangat heroik. Partai, Negara dan Pemerintah Vietnam menginginkan
agar gelombang siaran VOV tidak hanya melanda semua wilayah di dalam
negeri saja, tapi juga menuju ke 5 benua di dunia”.
Khususnya
sejak program peliputan gelombang di Laut Timur tahap 1 yang digelarkan
VOV, para nelayan sangat gembira. Ini juga merupakan program yang
mendapat penilaian tinggi dari Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung
karena hasil guna komunikasinya yang mendalam dan luas, bisa membantu
kira-kira 1 juta nelayan Vietnam mengetahui informasi multi-arah tentang
haluan dan garis politik Partai dan Negara; serta memperkuat kemampuan
menghindari taufan, melakukan pertolongan korban di laut.
Ruang studio VOV
(Foto: vov.vn)
Pimpinan
Partai, Negara dan Pemerintah Vietnam selalu menegaskan komunitas orang
Vietnam di luar negeri sebagai satu bagian yang tak terpisahkan dari
Vietnam. Tidak hanya merupakan satu kanal informasi yang efektif di
dalam negeri saja, radio juga mengembangkan peranan sebagai jembatan
penghubung antara Vietnam dengan orang Vietnam yang hidup jauh dari
kampung halaman. Program siaran untuk warga Vietnam yang hidup jauh dari
kampung halaman dari Kanal Siaran Luar Negeri (VOV5), bagaikan sahabat
yang akrab bagi mereka, dengan penyiaran menjangkau kira-kira 70 negara
dan teritorial di dunia.
Le
Van Duyen, 84 tahun, seorang diaspora Vietnam yang tinggal di kota San
Jose, negara bagian California, Amerika Serikat memberitahukan: “Saya
selalu memantau informasi tentang Vietnam melalui Radio. Saya bersama
anak-anak saya ingin mendengar semua informasi dan memantau kehidupan,
politik, kebudyaaan dan kesenian.Setiap malam saya bersama istri selalu
menunggu-nunggu untuk mendengar lagu-lagu nasional yang disiarkan VOV.
Jika ada yang belum tahu, VOV-lah yang memberikan informasi itu kepada
saya”.
Melalui
gelombang siaran VOV, semua citra-citra tentang satu negara Vietnam
yang indah, rakyat Vietnam yang baik dan akrab bisa sampai pada
sahabat-sahabat internasional. VOV5 telah menjadi santapan rokhani yang
tak bisa kurang bagi para pendengar asing. Sekarang, semua isi program
VOV5 juga dimuat di website pada nama domain www.vovworld.vn
yang tambah membantu pendengar asing bisa mendekati informasi Vietnam.
Dengan perasaan yang diberikan kepada semua program siaran VOV, para
pendengar telah membentuk kelub pendengar VOV5.
VOV semakin berkembang dari hari ke hari
(Foto: vov.vn)
Seorang pendengar Indonesia memberitahukan: “Beritanya
lebih original, bukan satu rekayasa, apa adanya disiarkan dan itulah
yang saya senangi. Saya begitu juga berita mengenai budaya, mengenai
pariwisata, dll orang Indonesia juga senang sekali. Kehidupan orang
Vietnam juga sangat menarik. Itu jujur sekali sebetulnya”.
Semua
lagu, kartu pos serta dorongan semangat yang disampaikan para pendengar
asing justru merupakan kegembiraan bagi para wartawan, redaktor VOV5
pada khususnya dan VOV pada umumnya untuk tambah dorongan semangat untuk
melayani para pendengar asing, bagaikan kata terima kasih kepada
sahabat-sahabat yang lama.
Sekarang,
semua ragam multi media sedang tidak henti-hentinya berkembang secara
kuat. Ragam radio juga mengalami tidak sedikit persaingan. Akan tetapi,
dengan semua keunggulan dalam menyampaikan informasi, investasi dananya
tidak terlalu banyak, radio tetap merupakan satu kanal informasi yang
bermanfaat bagi kebutuhan semua orang Vietnam dan sahabat
internasional./.
Langganan:
Postingan (Atom)