Rabu, 11 Juni 2014

Nuim Khaiyath, Sang Legenda Radio Australia

Baik buruk hubungan dua negara tidak hanya ditentukan para politikus. Penyiar seperti Nuim Khaiyath justru mendapat tempat penting dalam hubungan Indonesia-Australia. Lewat program siaran yang dipandu nya di Radio Australia, rakyat kedua negara saling membahas isu aktual dengan lebih santai dan tanpa rasa saling curiga.
 http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/06/nuim-khaiyath.jpg
“Assalamu”alaikum, apa kabar” Kalau ada matahari, jangan lupa jemur tilam dan bantal. Hati-hati di jalan. Kalau ter langgar becak, enyah lah badan.” Kata-kata yang terdengar bersemangat itu selalu dirindukan ribuan pendengar setia Radio Australia setiap pagi. Ungkapan dengan suara bariton khas penuh energi itu terlontar dari mulut Nuim Khaiyath atau yang bernama lengkap Nuim Mahmud Khaiyath.
Nuim lahir di Medan, tepatnya di tepi Sungai Deli, 74 tahun silam. Anak dari ayah keturunan Arab dan ibu keturunan Melayu Deli. Dia sejak masih muda terjun ke dunia jurnalistik. Belum selesai kuliah di Fakultas Sastra Universitas Islam Sumut (UISU), Nuim bekerja sebagai wakil pemimpin redaksi koran berbahasa Inggris terbitan Medan, The Deli Times.
Dia menceritakan, takdir yang membuat dirinya banyak berkarir di mancanegara itu diawali ketika mulai muncul rasa penasaran yang besar terhadap kampung halaman ayahnya di Timur Tengah.
Kesempatan mengunjungi kampung halaman sang ayah datang ketika usia Nuim menjelang 20 tahun. “Saya mendapat kesempatan naik kapal Malaysia bernama Kuala Lumpur ke Arab Saudi. Kapalnya sih besar, tapi mesinnya kecil. Karena itu, berkali-kali berhenti di tengah laut,” kenang nya.
Setelah perjalanan laut berbulan-bulan, dia akhirnya sampai juga di tujuan. Karena berstatus ilegal, Nuim harus berkali-kali menyamar agar tidak terkena razia. “Saya sering pakai jilbab dan cadar agar tidak ketahuan. Namun, se lihai-lihai saya bersembunyi, akhirnya ketahuan dan ke tangkap juga,” ujarnya.
Namun, bukan anak Medan jika tidak bisa bersiasat. Agar tidak dijebloskan ke tahanan, Nuim menawarkan diri menjadi guru bahasa Inggris dan siap dipulangkan jika selesai musim haji. Tawaran itu ternyata diterima, bahkan keterusan.
“Saya malah ditawari posisi mengisi siaran bahasa Indonesia di radio pemerintah Saudi,” ungkapnya. Nah, sejak itulah karir Nuim di radio mancanegara bermula.
Pada 1964, Nuim merambah Eropa dengan menjadi penyiar di BBC”s Indonesian Service yang berpusat di London selama tiga tahun. Lalu, bersiaran selama tiga tahun pula, tetapi di Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (Rasi). Pada 1970, dia kembali bersiaran di BBC London hanya selama dua tahun.
Sejak 1972, Nuim kembali bersiaran di Rasi. Bahkan, pada 1998, dia mulai memimpin Rasi. Kedua telinga saya mengenal suara kakek kelahiran Gang Bengkok, Medan, Sumatera Utara, lewat Delta FM dan kini Lite FM (dulu Ramako).
Dengan jam terbang sedemikian banyak, beragam acara sudah dibuat dan populer karena disiarkan Nuim. Misalnya, Sabtu Gembira (Samba) yang dibawakan dengan logat Melayu Medan. Ada juga Dunia Olah Raga, Perspektif, dan kadang-kadang duet dengan Nina Yusac dalam Dunia Wanita serta berita internasional.
Karena banyaknya permintaan, acara-acara yang diasuh Nuim disiarkan pula oleh radio-radio di Indonesia seperti Radio Delta FM setiap Sabtu pagi . Selain itu, dia tampil dalam siaran Radio Ramako FM setiap Senin pagi dalam acara Poros Jakarta Melbourne.
Ketika menyaksikan bagaimana Nuim bersilat lidah di ruang siaran. Dengan suara renyah nya, penggemar sayur nangka itu fasih mengulas beragam topik. Mulai politik, ekonomi, sosial, budaya, dan olahraga.
Ingatan Nuim luar biasa. Kutipan dari filsuf Yunani diucapkan sejelas mengutip sabda Muhammad SAW dan ayat-ayat suci. Semua itu dilakukan dengan hanya berbekal secarik kertas yang disiapkan Oska Setyana, warga negara Indonesia (WNI) juga yang menjadi produser acara. “Saya harus sadar umur. Saya tetap perlu catatan tentang garis besar topik,” ujarnya saat ditanya tentang isi catatan nya.
Bersamaan dengan kunjungan rombongan senior editor dari Indonesia pekan lalu, Nuim menyiapkan pembahasan tentang pengaruh media terhadap prospek Pemilu 2014 dalam program bahasa Indonesia yang diasuhnya. Dengan tangkas, Nuim membagi pertanyaan, memberikan pernyataan, dan sesekali menyelipkan humor serta pantun.
Karena itu, program siaran bahasa Indonesia di Radio Australia yang berdurasi 30 menit tersebut berlangsung sangat menarik. “Berpantun memang ciri yang terus saya jaga, karena tempat jatuh dikenang, konon pula tempat bermain,” ujar Nuim lagi-lagi sambil berpantun.
Dengan semua kepiawaian tersebut, sangat banyak julukan yang pantas dilekatkan kepada Nuim. Misalnya, ensiklopedia berjalan, juru cerita yang piawai, gudang lelucon berbagai bangsa dan budaya, serta penceramah agama.
Hebatnya, meski sudah menetap di Australia, tepatnya di Kota Merlbourne, selama berpuluh-puluh tahun (sejak 1974), Nuim masih tetap kukuh menyandang status warga negara Indonesia (WNI). Padahal, iming-iming keringanan hingga pembebasan pajak, asuransi kesehatan, dan berbagai kemudahan akan langsung diberikan pemerintah Australia kalau saja dia bersedia menjadi warga negara Australia.
“Istri saya yang paling heran dan sering ngotot agar saya mempertimbangkan tawaran Australia,” ujarnya Nuim.
Namun, meski menolak disebut seorang nasionalis, Nuim punya perasaan, jika lahir di Indonesia, kebahagiaan terbesar juga adalah dirinya harus mati sebagai warga negara Indonesia. “Bangsa kita sangat besar dengan alam dan orang-orang yang luar biasa. Tidak ada alasan untuk tidak bangga,” tegasnya.
Meski demikian, Nuim membebaskan seluruh keluarganya untuk mengikuti prinsipnya atau memilih menjadi warga negara Australia. “Soal-soal pribadi seperti itu, saya serahkan saja ke mereka,” katanya.
Tidak hanya bersiaran, pada Februari 2009, Nuim menerbitkan buku berjudul Dunia di Mata Nuim Khaiyath. Dalam buku pertamanya itu, Nuim membahas aneka topik, mulai Obama, Israel, dan Amerika. Dia juga masih aktif menulis di rubrik Opini Nuim pada penerbitan OZ Indo Post Magazine.
“Saya ini paling sulit mendokumentasikan apa saja yang saya siarkan. Dengan buku, tentu lebih tertata dan bisa abadi,” katanya.
Dengan empat anak dan beberapa cucu, Nuim kini mengaku lebih banyak menikmati hidup dengan berenang, berwisata ke Indonesia, dan mengunjungi kolega serta teman lama. Dia betul-betul menerapkan prinsip hidup yang sering dibagikan pada akhir siaran: “Sukai lah apa yang Anda kerjakan, jangan hanya mengerjakan apa yang Anda sukai!” (ar/jpnn)

Programa NHK World 12 sd 15 Juni 2014

12 Juni
(Kamis)
Piala Dunia Inas: Ajang Sepak Bola bagi Tunagrahita

photo
Tim sepak bola tunagrahita Jepang (Foto milik JFFID)

Kejuaraan Piala Dunia Inas yang diselenggarakan untuk para atlet tunagrahita akan digelar dua bulan setelah Piala Dunia FIFA berlangsung di Brasil. 16 negara ikut ambil bagian dalam Piala Dunia Inas tersebut. Dalam Fokus Radio Jepang kali ini kami akan bertanya kepada penjaga gawang Jepang Hidemitsu Uchibori tentang persiapan dan harapannya atas kejuaraan tersebut.

Pojok Tamatebako
Wawancara pendengar dari Lombok, NTB.
13 Juni
(Jumat)
Ayo Masak Makanan Jepang: Iwashi hambagu atau burger sarden

photophoto
(Kiri) Bahan-bahan
(Kanan) Hasil jadi

Panen ikan sarden di Jepang berlangsung di bulan Juni dan Oktober saat ikan jenis itu tengah gemuk-gemuknya. Kami akan mengajak Anda untuk membuat burger sarden dengan mencincang dagingnya, membuatnya menjadi bentuk oval dan kemudian dipanggang di penggorengan.
14 Juni
(Sabtu)
Budaya Pop Jepang: Budaya Karaoke Jepang

photophoto
(Kiri) Boks karaoke untuk satu orang yang ingin bebas bernyanyi
(Kanan) Kompetisi karaoke ©XING INC.

Industri karaoke Jepang saat ini semakin menguat. Mesin karaokenya terus berkembang dan beberapa di antaranya kini menggunakan kabel yang bisa menghubungkan dua penyanyi yang berada di tempat berbeda. Sementara di tempat karaoke lainnya, para penyanyi bisa berkompetisi menyanyikan lagu milik bintang idolanya. Kami akan membahas perkembangan terbaru budaya karaoke Jepang, mulai dari mesin mutakhir hingga cara baru untuk bersenang-senang dengan mesin karaoke tersebut.

Belajar Bahasa Jepang (Ulangan)
Pelajaran 10: Terima kasih banyak atas dukungan Anda selama ini
photo

Kuon akan mengunjungi seorang pelanggan minggu depan untuk mencoba menjual sebuah produk baru. Dia menelepon pelanggan itu sebelumnya untuk memastikan waktu dan hari kunjungannya.
15 Juni
(Minggu)
Halo Dari Tokyo

photo

Setiap hari Minggu, kami membacakan surat, menjawab pertanyaan serta memutarkan lagu-lagu permintaan para pendengar.

Para pendengar mendukung kedaulatan dan keadilan Vietnam di Laut Timur

07 Juni 2014 - 17:30:00
(VOVworld) - Saudara-saudara pendengar! Informasi tentang penempatan anjungan minyak Haiyang Shiyou 981 secara tidak sah oleh Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam telah selalu dimutakhirkan di berbagai media massa, khususnya pada gelombang penyiaran dan di Website vovworld.vn dari  Kanal Siaran Luar Negeri Radio Suara Vietnam (VOV) melalui dua belas bahasa yalah Vietnam, Inggris, Perancis, Rusia, Jerman, Mandarin, Jepang, Spanyol, Laos, Thailand, Kamboja, Indonesia dari 2 Mei 2014 sampai sekarang. Sudah genap sebulan sejak informasi yang pertama tentang kasus ini di disiarkan pada gelombang siaran, VOV telah menerima banyak surat post, E-mail dan komentar yang dikirim oleh para pendengar dan pembaca di dunia, menyatakan kutukan terhadap tindakan salah Tiongkok tersebut, bersamaan itu menyatakan dukungan terhadap Vietnam dan langkah-langkah yang digunakan oleh Vietnam untuk menangani ketegangan sekarang ini.


Sahabat-sahabat Internasional mendukung kedaulatan Vietnam
terhadap kepulauan Hoang Sa dan Truong Sa.
(Foto: vnexpress.net)


  Saudara-saudara pendengar telah menyatakan protes keras dan mengutuk penempatan anjungan  minyak Haiyang Shiyou 981 secara tidak sah oleh Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam dan  beranggapan bahwa ini merupakan tindakan salah yang melanggar hukum internasional. Pendengar Jerman, Alfred Albert mengatakan bahwa ini merupakan tindakan yang “memalukan”, “memperlihatkan intrik berkuasa sendiri dan tidak menghormati negara-negara kecil”. Sedangkan, pendengar dari kota Tokyo, Jepang, Kai Motoffumi  mengatakan bahwa “ Saya merasa  gusar  terhadap tindakan Tiongkok yang menghina hukum internasional akhir-akhir ini. Media massa Jepang memberitakan banyak informasi tentang Tiongkok yang melanggar kedaulatan zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam, menabrak dan menyeruduk kapal ikan Vietnam. Juru bicara Tiongkok sampai saat ini hanya mengulang-ulangi haluan sefihak yang tidak punya dasar. Pada masa belakangan ini, saya mendengar VOV untuk mencari tahu tentang kebenaran mengenai masalah ini. Hal ini tidak bisa diterima oleh komunitas internasional”.


Sahabat -sahabat internasional menjunjung tinggi gambar Presiden Ho Chi Minh dalam pawai mendukung kedaulatan Vietnam di Laut Timur.
(Foto: nguyentandung.org)


Dari Jepang, pendengar Ishikawa Atsushi memberitahukan bahwa “Media massa Jepang  akhir- akhir ini juga memuat banyak berita yang bersangkutan dengan sengketa di Laut Timur antara Vietnam dan Tiongkok. Semua negara menunggu penanganan terhadap ketegangan dengan langkah damai”.

 Pendengar Kogasahara Takashi memberitahukan bahwa melalui informasi yang disampaikan oleh VOV dan gambar-gambar yang dilihat melalui video clip yang ditayangkan oleh wartawan NHK (Jepang), para pendengar melihat dengan jelas bahwa kapal Tiongkok telah menyeruduk kapal-kapal pelaksana hukum fihak Vietnam. Ketika menyatakan pandangan tentang tindakan salah Tiongkok, pendengar Thailand, Attapon beranggapan bahwa “ini merupakan tindakan terang-terangan, melanggar hukum internasional, tidak memperdulikan kutukan internasional dan melanggar secara serius kedaulatan Vietnam”.

Kaum pemuda internasional mendukung kedaulatan Vietnam di Laut Timur.
(Foto: soha.vn)

Tindakan tidak sah Tiongkok tersebut sedang menimbulkan instabilitas-instabilitas, berpengaruh terhadap keamanan kawasan, oleh karena itu, menurut pendengar Perancis, Michel Minouflet: “Tidak ada orang di dunia yang bisa tidak ambil peduli tindakan Tiongkok yang melanggar  kedaulatan dan menempatkan anjungan pengeboran minyak Haiyang Shiyou 981 secara tidak sah oleh Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam. Saya berharap  supaya  negara tetangga saudara-saudara akan cepat menangani  masalahnya dengan langkah damai dan tidak membuat situasi  menjadi bertambah tegang”.

Disamping mengutuk dan memprotes tindakan salah Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam, para pendengar juga memberikan dorongan semangat kepada rakyat Vietnam, memanifestasikan dukungan terhadap rakyat Vietnam peminca damai. Pendengar Kamboja, Hean Saram berbagi pandangannya bahwa: “ Saya dan istri saya merasa khawatir terhadap ketegangan antara Vietnam dan Tiongkok dalam masalah Laut Timur  dan dua kepulauan yang bersangkutan. Menurut kami, fihak Tiongkok harus menghargai hukum internasional. Kami berharap supaya dua negara akan menangani  masalah ini dengan langkah damai untuk mempertahankan  lingkungan politik dan ekonomi yang damai dan berkembang”.

 Dari Jambi, Indonesia, saudara M.Zainal telah mengirim Email dengan isi bahwa “Indonesia dan negara-negara ASEAN mendukung Vietnam dan berharap supaya semua sengketa di Laut Timur  cepat ditangani melalui perbahasan. Mudah-mudahan, Tiongkok bisa menyedari  tindakan-nya yang salah dalam melanggar kedaulatan Vietnam”.

Sedangkan, saudara Eddy Setiawan di Jakarta Timur, Indonesia mengatakan: “Saya merasa menyesal terhadap tindakan-tindakan Tiongkok yang telah berpengaruh terhadap rakyat dan negara Vietnam. Mudah-mudahan, dengan pernyataan - pernyataan  protes dari banyak negara di dunia, Tiongkok  bisa memahami tindakannya yang salah dan masalah ini cepat ditangani dan tidak menimbulkan kerugian  terhadap rakyat dan  bangsa Vietnam”.  


Ilustrasi.
(Foto: nguyentandungorg))

   Sementara itu,  pendengar Amerika Serikat, Mike Gorttfried di Princeton mendukung Vietnam dengan cara kongkrit: “Saya akan mengirim surat kepada para pemimpin Washington untuk mendesak mereka memanifestasikan solidaritas antara Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Vietnam dalam masalah ini bagi Tiongkok. Memang tidak adil ketika mereka melanggar zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam. Hanya ada solusi-solusi damai dan menggunakan hukum, barulah bisa menciptakan masa depan yang lebih baik antara negara-negara. Amerika Serikat sepenuhnya mendukung Vietnam. Semuanya demi perdamaian. Tiongkok segera menghentikan tindakan-tindakan provokatif terhadap sahabat Vietnam kami”.

Dari Spanyol, pendengar Robert Diez Echevarria mengatakan: “Semua sengketa antara Vietnam dan Tiongkok perlu ditangani melalui dialog. Satu langkah damai akan membantu membangun perdamaian di dunia”. Banyak pendengar juga sependapat dengan pendengar Robert Diez Echevarria  dalam menangani ketegangan di Laut Timur. Dalam surat kepada program siaran bahasa Thailand, saudara Attapon memberitahukan: “Saya sependapat dengan cara Vietnam ialah menangani-nya secara damai dan tidak menggunakan kekerasan. Semoga, Vietnam mencapai sukses dalam menangani masalah ini”.
Tidak hanya  para pendengar di negara-negara lain saja, melainkan pendengar Tiongkok juga melihat bahwa penempatan anjungan minyak Haiyang Shiyou 981 secara tidak sah oleh Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen Vietnam adalah tindakan yang salah. Pendengar Tiongkok, Zhang Pei Qiang telah mengirim umpan balik ke halaman website www.vovworld.vn dengan isi: “Mudah-mudahan, situasi akan tidak berpengaruh serius terhadap hubungan antara dua negara dan tidak berkembang menjadi bentrokan seperti pada tahun 1979. Kalau memulai perang, maka kedua fihak akan menderita korban-korban, maka dua negara perlu dengan melalui perundingan untuk meminimalkan ketegangan. Sekarang ini, baik Tiongkok daratan, Taiwan dan Vietnam bersama-sama menyatakan kedaulatan di Laut Timur, akan tetapi menurut saya, kepulaan Shisa yang disebutkan Vietnam sebagai Hoang Sa adalah milik Vietnam, karena baik Tiongkok daratan maupun Taiwan sejak dulu sampai sekarang belum pernah benar-benar menguasai  wilayah laut ini”
Para pendengar! Bersama dengan dukungan dari sahabat-sahabat internasional, pendapat-pendapat dan doprongan semangat dan dukungan para pendengar dari banyak negara di dunia merupakan simpathi yang bernilai terhadap rakyat Vietnam. Rakyat Vietnam selalu mencintai perdamaian dan juga menginginkan agar ketegangan di Laut Timur sekarang ditangani. Kami berterimakasih kepada saudara-saudara yang telah berjalan seperjalanan dengan bangsa Vietnam dalam perjuangan demi perdamaian.

Saudara-saudara pendengar! Kami akan terus memutakhirkan dan menyampaikan informasi yang bersangkutan dengan peristiwa ini kepada saudara-saudara di semua acara warta berita VOV dan dimuat pada Website dengan nama domain: www.vovworld.vn./.

Selasa, 27 Mei 2014

PERTEMUAN UMUM RADIO LISTENERS CLUB 2014.




 Tepat 5 bulan mendatang, hari Sabtu & Minggu, 25 & 26 Oktober 2014, kita Keluarga Besar RADIO LISTENERS CLUB akan menyelenggarakan PERTEMUAN UMUM di Kawasan Candi PRAMBANAN, tak jauh dari kota Yogyakarta.
 Acara PERUM RLC ini akan bertempat di Hotel GALUH yang berdekatan dengan Candi Prambanan dan Plaosan, dengan pokok acaranya adalah pengesahan perubahan AD & ART RLC dan pemilihan Pengurus periode 2015 – 2016.
 Sehubungan dengan pentingnya acara tsb, maka sangat diharapkan keikut-sertaan para Anggota Radio Listeners Club dalam penentuan arah masa depan Keluarga Besar kita.
 Sebagai biaya partisipasi PERUM RLC ini, tiap peserta dikenakan iuran pendaftaran sebesar Rp. 300,000.00 (Tigaratus Ribu Rupiah), dimana didalamnya telah termasuk:
 • Penginapan 1 malam di kamar standard untuk 4 orang.
 • Makan 4 kali (Pagi 1x, siang 2x dan malam 1x)
 • Cemilan rehat 2x.
 • Tiket Masuk Kawasan Wisata Candi Prambanan.
 • Topi seragam PERUM RLC 2014.
 Bagi yang mau berenang, tersedia sarana kolam renang di Hotel Galuh.
 Jika peserta menghendaki 1 kamar untuk 2 orang, dikenakan biaya tambahan Rp. 50,000.00 per-orang.
 Pendaftaran dapat dilakukan mulai sekarang dengan transfer ke
 BCA Rekening No...: 2390452929.
 Atas nama..............: MERRY.

 Pendaftaran dapat dibayar secara bertahap agar meringankan keuangan peserta, dan telah lunas pada saat pendaftaran ditutup pada tanggal 27 September 2014.
 Hal-hal lainnya akan kami susulkan dalam pemberitahuan berikutnya. Apabila ada yang kurang jelas, dapat disampaikan dalam kotak komentar.
 Terima kasih atas perhatian dan partisipasi para Anggota RADIO LISTENERS CLUB di manapun berada.

Stasiun Relay Afrika Tengah Milik BBC, BBC Francistown




terima kasih kepada Mr. Adrian Peterson (adrian.m.peterson@gmail.com) yang telah memberi saya izin untuk menggunakan artikel dari Wavescan.
Pada masa kolonial tahun 1895 seorang pemimpin politik berpengaruh Cecil Rhodes mendirikan sebuah wilayah di bawah kekuasaan Inggris di selatan Afrika yang diberi nama Rhodesia. Dalam situasi politik yang sulit pada waktu itu akhirnya muncul dua Rhodesia; Rhodesia Utara yang kemudian menjadi Zambia and Rhodesia Selatan yang menjadi Zimbabwe.
11 November 11 1965, wilayah Rhodesia Selatan dengan menggunakan nama Rhodesia mendeklarasikan kemerdekaan sepihak dengan Ian Smith sebagai Perdana Menteri. Pada saat yang sama Badan Penyiaran Rhodesia (Rhodesia Broadcasting Corporation) menghentikan semua relay siaran BBC di jaringan siaran radio nasional yang mengudara di gelombang pendek dan menengah. 
Pemerintah Inggris segera merencanakan pembangunan stasiun relay untuk gelombang pendek dan menengah guna menyiarkan acara-acara BBC yang khusus dipancarkan ke Rhodesia. Dipilih sebuah tempat di luar Francistown yang berdekatan dengan Bechuanaland, sekitar 16 mil dari perbatasan Rhodesia.
Nama (kota) Francistown digunakan untuk menghormati seorang pencari emas asal Inggris, Daniel Francis,  pada 1897. Kini Francistown merupakan kota terbesar kedua dengan jumlah penduduk mencapai seperempat juta jiwa. Kota tersebut terletak di daerah yang sangat kering dan laporan-laporan cuaca menunjukkan bahwa pada saat-saat tertentu tidak ada hujan selama beberapa tahun berturut-turut.
Ketika krisis politik di Rhodesia teratasi pada akhir 1965, BBC segera mencari pemancar siap pakai dan dipilihlah dua unit pemancar gelombang menengah “Continental”  yang diproduksi di Dallas, Texas. Pada saat itu secara kebetulan Continental sedang membuat beberapa pemancar gelombang menengah 50 kW mediumwave, Model 317C,  untuk sejumlah klien, satu diantaranya adalah Ronan O'Rahilly yang mengoperasikan stasiun pirate radio "Radio Caroline" di dalam kapal "Mi Amigo".

Pengusaha O"Rahilly mengizinkan BBC mengambil pemancar gelombang menengah yang dia pesan, Continental 50 kW 317C No. 12, pemancar ini diterbangkan ke Francistown di Africa dan ditempatkan di Stasiun Relay Afrika Tengah milik BBC. Pemancar Continental berikutnya, Model No. 13 juga diambil alih oleh BBC dan ditempatkan di stasiun Francistown.

Pemancar Continental No. 12, 50 kW 317C diresmikan pada 30 December 1965; dan pemancar No. 13 diresmikan beberapa minggu sesudahnya pada awal 1966.
O"Rahilly kemudian mengambil pemancar No. 14 dan ditempatkan di kapal "Mi Amigo," dan ketika kapal tersebut karam di muara Sungai Thames Estuary 15 tahun kemudian, pemancar itu juga tenggelam. Dan kini masih di sana, di dasar Laut Utara!
Stasiun Relay Afrika Tengah milik BBC dibangun di bawah pengawasan Harold Robin yang sebelumnya meraih popularitas ketika dia mengawasi pembangunan pemancar gelombang menengah “Aspidistra” milik Amerika di  Crowborough Sussex, Inggris, pada masa Perang Dunia II. Total 60 ton peralatan radio dikapalkan dari AS dan Inggris untuk ditempatkan di Francistown dengan bantuan 18 teknisi.
Stasiun yang sejak awal dirancang sebagai fasilitas sementara ini berlokasi di daerah yang nyaris gersang di luar pinggiran kota Francistown. Stasiun itu dioperasikan oleh DWS (British Diplomatic Wireless Service) dan semua acaranya dalam bahasa Inggris; baik untuk siaran BBC World Service, siaran reguler ke Afrika, atau acara khusus yang disesuaikan untuk Rhodesia.
Sejumlah acara yang telah direkam sebelumya disiapkan oleh BBC Transcription Service dikapalkan dari Inggris ke Francistown. Kemungkinan acara langsung yang disiarkan di gelombang pendek berasal dari Daventry di Inggris dan stasiun relay BBC di pulau Siprus di Mediterrania. Pada puncak pelayanannya Stasiun Relay Afrika milik BBC mengudara dengan empat pemancar selama total 15 jam setiap hari.
Guna mencegah pendengar di Rhodesia mendengarkan acara BBC Francistown, pada 21 Maret 1966 pemerintah Rhodesia mengaktifkan pemancar jamming di sejumlah lokasi berbeda, namun pemancar utamanya ditempatkan di Salisbury dan Bulawayo. Karena alasan ekonomi pemancar jamming itu hanya dioperasikan ketika stasiun BBC menyajikan informasi terkait Rhodesia. Jamming terhadap dua saluran gelombang menengah saat itu tergolong sukses namun jamming terhadap pemancaran (siaran) gelombang pendek tidak terlalu efektif. 
Dua pemancar gelombang pendek yang digunakan BBC Francistown berupa pemancar Marconi 10 kW buatan Inggris. Yang pertama mulai digunakan pada 30 Desember 1965, dan yang kedua pada awal tahun 1966.
Ketika Stasiun Relay BBC di Afrika Tengah dibangun ada dugaan pemancar gelombang menengah pertama yang ditempatkan di Francistown diperoleh dari stasiun gelombang menengah sementara yang dioperasikan Voice of America di Sugarloaf, Florida Keys. Dugaan tersebut ternyata salah, pemancar VOA Sugarloaf berasal dari WBAL di Baltimore, Maryland; dan dua pemancar di BBC Francistown diperoleh dari perusahaan Continental di Dallas, Texas; Model 317C nomor 12 & 13, keduanya berdaya 50 kW.
Frekuensi awal di gelombang menengah adalah 908 kHz, ketika Rhodesia mengganggu siaran stasiun BBC tersebut, sejumlah channel (juga) digunakan termasuk 602, 925 dan 926 kHz. Di gelombang pendek channel yang digunakan adalah 4842, 4845, 5015, 7130 dan 7295 kHz.
Stasiun Relay Afrika Tengah milik BBC di Francistown, Bechuanaland, mengudara tepatnya selama 2-1/4 tahun dan pada akhirnya ditutup pada 31Maret 1968. Dua pemancar gelombang pendek 10 kW buatan perusahaan Marconi diberikan kepada Radio Botswana dan ditempatkan di Gaberone.
Dua pemancar gelombang menengah Continental 317C 50 kW dibongkar, salah satunya dikapalkan ke Inggris untuk digunakan BBC, dan satunya lagi dikapalkan ke Siprus untuk ditempatkan di stasiun relay BBC di Zygi. Pada akhirnya unit pemancar yang ditempatkan di Siprus dijual sekitar tahun 1987. diterjemahkan oleh هند

Stasiun Relay Samudera Hindia BBC




terima kasih kepada Mr. Adrian Peterson (adrian.m.peterson@gmail.com) yang telah memberi saya izin untuk menggunakan artikel dari Wavescan.
Beberapa waktu lalu BBC mengumumkan rencana untuk menutup Stasiun Relay di Samudera Hindia pada sabtu 29 Maret. Stasiun ini telah mengudara selama lebih dari seperempat abad dan ditutupnya stasiun itu mengakhiri siaran gelombang pendek internasional namun stasiun relay FM akan terus beroperasi.
Akhir tahun lalu kami menyajikan kisah stasiun relay sementara milik BBC yang terletak di Francistown di Botswana, Afrika. Stasiun ini dibangun dengan tergesa dalam upaya untuk merespon peristiwa politik yang terjadi di negara tetangga Rhodesia, stasiun ini dikenal secara resmi sebagai BBC Central Africa Relay Station.
Empat pemancar ditempatkan di sana, dua pemancar gelombang menengah Continental (buatan AS) dengan masing-masing 50 kW, dan dua pemancar gelombang pendek Marconi (buatan Inggris) dengan masing-masing 10 kW. Stasiun ini mulai beroperasi pada 30 Desember 1965, dan terakhir mengudara pada 31 Maret 1968.
Penutupan stasiun itu menimbulkan pertanyaan di kalangan Parlemen Inggris di London. Menurut laporan resmi dari parlemen disebutkan bahwa stasiun Francistown ditutup dan sistem antena tambahan di Stasiun Relay BBC di Pulau Ascencion sedang dalam proses pemasangan. Antena baru tersebut akan menjamin cakupan (siaran) gelombang pendek bisa mencapai Rhodesia. Tentu ini hanya layanan yang bersifat sementara ke Rhodesia.
Juni 1966, BBC menjajaki kemungkinan penggunaan sebuah kapal besar sebagai stasiun relay BBC untuk mencakup Afrika Timur. Kapal yang mereka maksudkan adalah sebuah kapal kapal induk yang tidak terpakai HMS "Leviathan".
Kapal "Leviathan" diletakkan di Tynside, Inggris, pada 18 Oktober 1943 sebagai kapal induk bertenaga nuklir untuk digunakan dalam Perang Dunia II. Kapal ini belum selesai dibuat,  diluncurkan pada 7 Juni 1945 tepat ketika Perang Dunia II akan berakhir dan kapal itu hanya tergeletak menantikan takdirnya. Namun kapal itu tidak pernah terselesaikan.
Ketika BBC menjajaki kemungkinan pengambil alihan kapal tersebut sebagai stasiun relay terdapat saran agar menempatkan kapal tersebut di Terusan Mozambique dan langkah itu akan bisa menyediakan cakupan (siaran) radio ke Rhodesia dan Afrika Selatan. Saat itu Rhodesia mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak dan pemerintah Afrika Selatan adalah penyokong kuat pemerintahan Smith di wilayah bekas koloni Inggris tersebut.
Penempatan kapal itu nampaknya merupakan sedikit kemunafikan karena  itu terjadi pada saat yang sama ketika BBC mengeluhkan tentang keberadaan stasiun-stasiun lepas pantai  yang tidak memiliki izin di kapal-kapal sekitar pulau-pulau kecil Inggris.
Mungkin stasiun radio dalam kapal ini akan memancarkan (siaran) di gelombang menengah ke wilayah Afrika Timur, dan siaran gelombang pendek akan dipertimbangkan kemudian. Akan tetapi proyek radio ini tidak pernah terwujud  dan seluruh konsep dibatalkan pada Mei 1966. Dua tahun kemudian kapal induk "Leviathan" dijual dan dibongkar.
Pada sekitar masa yang sama BBC juga menjajaki pembangunan stasiun relay yang besar di pulau Aldabra untuk memancarkan siaran ke Afrika Timur. Aldabra adalah pulau karang kecil tak berpenghuni sekitar 500 mile di lepas pantai Afrika, 300 mile sebelah utara Madagascar, dan 500 mile dari Zanzibar. Penghuni pulau tersebut hanya sejumlah pegawai, penjaga dan petugas penelitian.
Pulau karang Aldabra mempunyai panjang 21 mile, lebar 8 mile dan merupakan pulau karang terbesar kedua di dunia. Pulau ini terdiri dari empat pulau kecil disekitar laguna (danau di pinggir laut – red)  yang dangkal, namun tidak ada air tawar di sini. Terdapat banyak bentuk kehidupan yang unik di tempat itu termasuk sekitar 100.000 kura-kura raksasa.
Tahun 1966 Angatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) mempertimbangkan untuk membangun pangkalan udara di Aldabra, dan angkatan udara Amerika tertarik dalam kerjasama dengan RAF sebagai stasiun pengisian bahan bakar untuk pesawat Amerika yang menuju Vietnam. Investasi Amerika dalam proyek tersebut mencapai $11 juta.
Tahun 1966 BBC menyewa kapal seberat 600 ton “Southern Skies” dari Mombassa untuk ekspedisi penjelajahan selama 6 minggu ke Aldabra. Orang-orang yang terlibat dalam survei BBC tersebut berkomunikasi dengan pihak London  melalui pemancar gelombang pendek SSB yang terdapat dalam kapal, dan BBC berkomunikasi dengan kapal melalui salah satu pemancar gelombang pendek bertenaga tinggi di Daventry. Namun karena serangan badai tropis Angela, ekpsedisi penelitian itu dipersingkat dan proyek ini juga dihentikan.
Jika proyek Aldabra terwujud bisa dibayangkan empat pemancar gelombang menengah bertenaga tinggi dengan masing-masing 750 kW akan dipasang dengan empat sistem antena yang diarahkan ke barat menuju Afrika. Pemancar-pemancar ini akan beroperasi secara terpisah atau bersamaan atau dengan gabungan satu channel gelombang menengah. Meskipun tidak disebutkan, jika stasiun ini jadi dibangun mungkin cakupan untuk siaran gelombang pendek akan ditambahkan kemudian.
Akan tetapi pangkalan militer Inggris atau Amerika tidak pernah menjadi kenyataan begitu pula stasiun relay BBC. diterjemahkan oleh هند