Senin, 13 Januari 2014

Surat Pembaca di Buletin Mediator



Siz Iskandar  – Kalbar
Hallo Rudi  Selamat ulang tahun ke 4 buat BLC kita yang tercinta ini meskipun masih berusia 4 tahun kita berharap kehadiran BLC bisa membuka wawasan baru bagi monitor siaran Luar Negeri dan mengalir apa adanya tanpa konflik dan perselisihan. Kehadiran BLC yang dilandasi oleh persahabatan dan kekeluargaan semoga 2014 menjadi hubungan yang lebih baik  ( Red : Terima kasih pak atas perhatiannya selama ini, semoga bisa bermanfaat )

Eddy Setiawan – Jakarta
Selamat Ulang Tahun BLC ke 4 Semoga tambah umur, tambah jaya dan tetap eksis, salam sukses P.F 1 Januari 2014  ( Red : Terima kasih Pak Eddy, semoga media ini dapat menjalin hubungan silatirahmi di antara kita , salam )

Thedja H – Sekadau Kalimantan Barat
Apa Kabar, semoga sehat selalu, Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun BLC ke 4 semoga sukses  ( Red : Terima kasih Pak atas perhatiannya selama ini, salam)

Sofia Azis Taba - Makasar
Hallo Rekan Rudi,apa kabar ?  Buletin 24/IV Nopember- Desember 2013 telah saya terima tanggal 31 Desember 2013. Bersama ini saya ingin ucapkan Happy Anniversary to BLC ke 4 semoga makin sukses dan tambah eksis amin   ( Red : Terima kasih ibu atas perhatiannya, semoga kita selalu diberikan kemudahan ,   salam)



Supar Hariyanto – Batang
Selamat Bermilad 4th BLC semoga media ini semakin banyak memberikan referensi dan wacana bagi pendengar RLN ( Red : Terima kasih pak semoga kita selalu menjaga hubungan silaturahmi ini, salam )

Voice Of Indonesia – Jakarta
Happy Birthday for BLC, Voice Of Indonesia wishes you all the best. Voice Of Indonesia broadcasts on www.voi.co.id and on 9525 KHz. Voice Of Indonesia on Google Playstore Thanks ( Red : special thanks for VOI and I’m very happy with a gift from VOI, best regards )

Terima kasih saya khaturkan kepada seluruh pembaca Mediator yang telah menyampaikan ucapan Selamat Ulang Tahun kepada BLC yang telah berdiri selama 4 tahun semoga memberi warna bagi komunitas pendengar radio di mana saja berada. Kami tidak bisa menyebutkan satu per satu namun kami yakin ketulusan teman-teman dapat kami apresiasi dalam karya semoga BLC dan Mediator ini tetap bisa hadir, amien..Salam kami buat Pak Jan Abraham, Mas Aries Subagyo, Pak Imam Farihin, Pak Sunu Budihardjo, Pak Nano SA, Pak Beno, dan pendengar lainnya di seluruh nusantara, Salam sukses selalu.

Foto Penyiar Radio Suara Vietnam 2014




Pertemuan Pendengar Surabaya ( Sugeng Santoso )


RLC (Radio Listeners Club) , Saya dan Radio Oleh : Sugeng Santoso/R. 058



 Berkurang  sudah kerinduan sahabat-sahabat RLC Jawa Timur setelah pada Minggu, 15 Desember 2013 berhasil bertatap muka dalam acara yang dikemas dengan nama Perlok (Pertemuan Lokal) RLC dan Santap Siang bertempat di RM Prima Rasa, Jl. Ahmad Yani 166, Surabaya.
 Pertemuan berlansung hangat, akrab dan berkesan. Maklum hampir 19 tahun tidak saling tatap muka. Tepatnya setelah Perum (Pertemuan Umum) XI RLC di Ungaran, 5 dan 6 Nopember 1994. Di rumah makan yang tidak terlalu luas itu namun banyak pengunjung,  sepuluh orang dari dua puluh-an yang diundang dapat datang dengan keinginan yang sama untuk membangkitkan kembali RLC, separti keinginan sahabat-sahabat RLC dalam reuni  yang diselenggarakan pada 3 Nopember 2013, di Wonosobo. Perlok yang digagas oleh 3 serangkai, Endi Yubianto, Devi Rinawati dan Harriyadi Teja Kusuma    berjalan  ditengah-tengah pengunjung rumah makan, foto-foto dan siapa-siapa yang hadir sudah dapat dilihat di FB selang beberapa  hari setelah perlok.
Yang hadir memang tidak banyak, tetapi percayalah mereka pribadi-pribadi yang sukses dibidang masing-masing. Nurhendro Putranto, misalnya saat ini menjadi orang pertama di Balai Harta Peninggalan Jawa Timur, Asyaukanie Ong, dai yang cukup dikenal khususnya di Jawa Timur. Sedang Bung Nus Tuwanakotta dan Sugiarto, malang melintang didunia broadcast televisi dan radio.
Penampakan berubah,  yang dulu kurus, sekarang subur karena makmur. He he.. Yang dulu bujang sekarang sudah beristeri/bersuami bahkan punya anak atau cucu. Harap maklum usia hampir pasti diatas 40 tahunan. Bahkan ada yang 60 tahun lebih.
RLC adalah klub pendengar radio yang pertama saya masuki. Berjaya di tahun delapan puluhan. Selain punya beletin, yang saya ketahui punya AD/ART, ber KTA. Setelah Perum XI hampir 20 tahun yang lalu, karena satu dan lain hal mengalami kevakuman. Bersamaan dengan itu banyak  radio manca negara, yang mengurangi jam siarnya. Selanjutnya saya mendaftar jadi anggota  IDXC (Indonesian DX Club), - hampir sama dengan RLC,- tetapi lebih menjurus ke DX, punya buletin DIRGANTARA. Selanjutnya saya juga berlangganan ATENSI,  BP,   Mediator punya Bornoe Listeners Club. Juga yang online seperti M54-nya Soehartono Azhar.  Dari ber DX lah saya jadi tahu Radio Swis, Radio Sweden, Radio Canada Int., Radio French Int. Dan beberapa radio lainnya.
Tidak Ada Mantan RLC
Klub-klub pendengar radio yang hidup dengan beaya dari dan untuk anggota,  sangat mungkin mengalami berbagai kendala. Tidak mungkin  bisa terus hidup  sehat, kadang - kadang sakit. Syukurlah kalau sekarang sudah mulai sembuh. Kedepan semoga bisa lebih sehat dan muncul aktivitas dan kreatifitas dalam bentuk yang perlu dirumuskan kembali, tanpa meninggalkan dunia nguping.  Dalam kondisi  radio manca negara menghentikan  siaran bahasa Indonesianya,  RLC kini  bangkit  kembali. Dan “Keanggotaan RLC tetap melekat, tidak menjadi mantan, sesuai AD/ART” kata sahabat Lin Jin melalui FB.
Mungkin seperti itulah apa yang sekarang dialami berbagai   radio manca negara. Kiranya kelak juga dapat bangkit kembali seperti asalnya di SW. Relatif tidak murah (tergantung receivernya), tapi mudah. Tidak perlu internetan dan punya sensasi sendiri. Bagaimana dengan mendengarkan lewat radio mitra? Biasanya tidak semua acara disiarkan.  Andalus FM di Malang, misalnya menyiarkan VoA hanya mulai 06.00-07.00 tiap harinya.
Saya terkenang dengan acara Musik Untuk Anda (pk. 22.00 disiarkan 5x seminggu/Suara Amerika), Sandiwara Radionya M.Diponegoro (Jumat pk. 20.00) dan Dijenjang Malam (pk. 20.30 7xseminggu/Radio Australia) Juga Gema Warta (pk 05.10 tiap hari selepas berita/Radio Nederland), Ungkapan Pendapat ( Minggu pk 05.35/BBC), Hallo Pendengar (Minggu 19.35/SJDW} dan banyak acara lainnya.  Marilah  radio manca negara yang ada kita rawat sehingga tumbuh subur dengan sehat berbuah persahabatan dan perdamaian abadi. Tidak ada lagi penyedapan, atas nama apapun.
Berkenan dengan apa yang diatur dalam AD/ART selain Perum XI di Wonosobo, yang juga dihadiri oleh perwakilan radio manca negara antara lain Maria Sukamto (RTI), Hasan Saleh (RSI) – saya pernah menghadiri Perlok di rumah sahabat Nus Tuwanakotta, Rina Amarhosea. Perlok juga pernah diadakan di rumah saya, dihadiri Jean van de kok dari Radio Nederland.
Yang perlu  dicatat Perlok yang diadakan hari itu, merupakan perayaan hari jadi sahabat Devi Rinawati yang jatuh pada 19 Desember,  tidak sekedar kumpul-kumpul, akan tetapi diisi ceramah  Asyaukanie Ong, penyerahan bendel formulir pendaftaran RLC dari saya ke sahabat Harriyadi Teja Kusuma. Juga dibicarakan selintas rencana pertemuan di Batu atau di Malang, entah kapan waktunya. Pendapat saya  nanti pertemuan itu, juga  dibuka untuk pendengar radio, selain anggota RLC. Sebab setelah Perum RLC XI, beberapa kali ada pertemuan pendengar radio, bahkan beserta keluarga, yang diadakan bukan oleh RLC. Berjalan sukses, juga dihadiri diantaranya wakil dari VoA, RASI, RTM dan radio lainnya. Saya  sempat  menghadiri beberapa diantaranya.  (sgg_santoso@yahoo.co.id)

Kisah Sri Lanka: Penghargaan untuk Ekala



terima kasih kepada Mr. Adrian Peterson (adrian.m.peterson@gmail.com) yang telah memberi saya izin untuk menggunakan artikel dari Wavescan.
Menurut informasi terbaru dari Sri Lanka, stasiun gelombang pendek bersejarah yang terletak di Ekala dekat Colombo akan dihentikan selamanya. Selama dua periga abad mengudara, stasiun ini bisa didengar hampir di seluruh dunia, stasiun ini juga berfungsi sebagai stasiun relay untuk sejumlah organisasi penyiaran gelombang pendek internasional
Kisah stasiun radio SEAC di Ekala bermula pada tahun 1941 ketika dimulai pembangunan gedung stasiun gelombang pendek untuk stasiun penyiaran dalam negeri, Radio Colombo. Lokasi yang dipilih terletak sekitar 10 mil di utara kota Colombo dan sekitar 5 mil dari samudera terdekat.
Ketika Lord Louis Mountbatten terlibat dalam perang di Asia, pembangunan stasiun gelombang pendek baru ini diambil alih, diperluas dan dipercepat. Kini proyek Ekala yang berada di bawah pengawasan SEAC - the South East Asia Command - mendapat prioritas tinggi.
Sebuah stasiun komunikasi di dekatnya yang dioperasikan oleh Royal Air Force untuk sementara menjadi tempat menyiarkan acara dari studio Radio SEAC yang berada di 191 Turret Road, Colombo. Siaran uji coba pertama dari stasiun RAF di Ekala berlangsung pada 11 Oktober 1944 dengan menggunakan pemancar 7.5 kW RCA model ET4750. Slogan mereka saat itu United Nations Radio Kandy.
Seorang ahli pemantau radio di Sri Lanka, Victor Goonetillike, memberitahu kami bahwa 2 stasiun radio  RAF Ekala dan SEAC Ekala, keduanya dibangun dengan sama besar.
Menurut sejarawan pemancar dan sistem antena pertama diambil dari Pulau Wight, dan dikirim dari Inggris dengan kapal. Akan tetapi kapal yang mengangkut pemancar itu diserang dan karam di pantai Ceylon. Pemancar dan sistem antena kedua dikirim dari Inggris juga dengan kapal beberapa bulan setelahnya dan sampai dengan selamat di Colombo untuk dipasang di SEAC Ekala.
Pemancar RCA ET4750 dengan 7.5 kW dan Marconi SWB18 dengan 100 kW dipasang serantak di Transmitter Hall baru  SEAC Ekala menjelang akhir tahun 1945, dan siaran percobaan dimulai awal 1946. Kedua pemancar dipergunakan pada 1 Mei dan upacara pembukaan resmi diadakan seminggu setelahnya pada 8 Mei 1946.
Segera setelah itu dipasang unit RCA kedua ET4750 dengan 7.5 kW dan  unit 1 kW RCA shortwave di Ekala.
Pada ketika itu mengudara empat pemancar gelombang pendek mengudara, tiga untuk cakupan internasional dan satu untuk lokal. Siaran internasional ditujukan ke India, Pasifik Utara, Burma & Jepang, dan Inggris.
Dengan perkembangan perang di Asia yang demikian cepat, Mountbatten memindahkan markas SEAC dari Kandy & Kolombo di Ceylon ke Singapura di Malaya, dan stasiun radio baru SEAC di Ekala diambil alih oleh War Office di London, meskipun nampaknya hanya terdapat perubahan sangat kecil dalam konten programnya. Pada saat itu stasiun tersebut menerima sekitar 8.000 surat setiap bulan dari seluruh dunia dan semuanya dibalas, biasanya dengan kartu QSL berteks hitam.
War Office di London mengakhiri kontrol atas Radio SEAC Ekala pada akhir Februari 1949, dan stasiun tersebut ditutup selama beberapa minggu. Namun ketika itu BBC di London memerlukan stasiun pengganti sementara karena mereka sedang dalam proses membangun stasiun baru di Tebrau di Semenanjung Malaya dan mereka akan memindahkan operasinya dari Jurong di Pulau Singapura ke stasiun Malaya.
Jadi BBC London mengambil alih bekas stasiun SEAC di Ekala di Ceylon pada 1 April dan stasiun ini mulai menyiarkan program BBC yang dipancarkan ke Asia. Pada akhir tahun berikutnya 1950, BBC memindahkan relay program mereka dari Ekala ke Far Eastern Relay Station mereka di Tebrau, Malaysia, dan mereka mengakhiri pemakaian sementara stasiun SEAC di Sri Lanka.
Namun demikian selama masa itu situasi dunia radio di Ceylon juga berubah dan Radio Ceylon meresmikan Commercial Service baru di bawah kepemimpinan bawah Clifford Dodd yang baru tiba dari Australia dengan bantuan the Colombo Plan. Commercial Service ini diresmikan pada 30 September 1950, tak lama sebelum BBC mengakhiri pemakaian stasiun SEAC.
Pada hari berikutnya 1 Oktober 1950, gereja Advent memulai relay acara dari Radio Ceylon sebagai klien pertama Commercial Service di gelombang pendek melalui stasiun radio Ekala. Sehingga dimulai kerjasama jangka panjang dengan Radio Ceylon, the Sri Lanka Broadcasting Corporation, yang pada akhirnya dikembangkan formasi unit penyiaran internasional AWR-Asia, Adventist World Radio di Asia.
Diantara para penyiar legendaris Commercial Service di gelombang pendek dari Colombo yang nama dan suara mereka terkenal di Asia selatan dan sekitarnya adalah: Vernon Corea, Jimmy Bharucha, Shirley Perera, dan Nihal Bharathi.
 Pada masa kejayaannya separuh dari pesawat radio gelombang pendek di India  memantau SLBC All Asia Service. Selama beberapa tahun mereka mengoperasikan kantor komersial tambahan di Bombay, India, dan QSL berdesain khusus juga tersedia dari kantor Bombay ini.
Kamis pagi jam 7:18, 5 January 1967, Radio Ceylon, the Ceylon Broadcasting Corporation, secara resmi berubah menjadi the Sri Lanka Broadcasting Corporation.
Dalam sisi teknis Voice of America membangun gedung pemancar mereka di samping bangunan SEAC, dimana dipasang 6 pemancar: 2 dengan 10 kW, 3 dengan 35 kW dan 1 dengan 100 kW. Pada sekitar waktu yang sama 8 pemancar lain dengan 10 kW, semuanya dari Philips, Belanda.
Sejak saat itu Jepang memasang dua pemancar gelombang pendek Kokosai dengan 300 kW di gedung baru yang berdekatan dan mereka mengganti empat pemancar 10 kW yang rusak di gedung pemancar utama SLBC.
Sejumlah organisasi penyiaran radio internasional juga memanfaatkan layanan relay dari SLBC Ekala. Misalnya tahun 1940an siaran langsung All India Radio Delhi kadang-kadang direlay melalui stasiun gelombang pendek. Kemudian pada tahun 1980an acara-acara dari the Trans World Radio dipancarkan melalui setidaknya tiga pemancar gelombang pendek yang berbeda a; 10 kW Philips, pemancar standby 12.5 kW , dan pemancar VOA  35 kW.
Siaran Family Radio dan FEBA Radio juga terdengar dari Ekala, begitu pula siaran-siaran dari organisasi kristen. Pada tahun-tahun awal Ekala menyiarkan siaran khusus olah raga dari Radio Australia. Kemudian pada tahun 1980an, the Sri Lanka Broadcasting Corporation menawarkan kepada Radio Moscow sebagai stasiun relay untuk mereka, namun tawaran itu tidak pernah dilaksanakan.
Pemancar Marconi 100 kW yang diresmikan dibawah bantuan SEAC pada 1945 masih mengudara setidaknya sampai 10 tahun lalu. Menurut sejumlah sumber callsign resmi untuk stasiun gelombang pendek  Ekala tersebut adalah 4SN.
Berkaitan dengan penutupan stasiun gelombang pendek Ekala shortwave station, kami mengutip pesan email dari Victor Goonetilleke:
Stasiun bersejarah yang dimulai di Ekala dibawah (bantuan) South East Asia Command, Radio SEAC, kini berada di saat-saat terakhir. Dari tiga pemancar VOA 35 kW hanya dua yang masih beroperasi, meskipun dua pemancar NHK dari Jepang masih dalam kondisi bagus namun tidak tersedia suku cadang dan terlalu mahal untuk memperbaiki serta mempergunakannya kembali. Pemancar Philips 10 kW Philips hampir usang sedangkan pemancar Marconi sudah berkarat dan tidak bisa digunakan.
Pemancar bersejarah yang berbasis di Ekala di pulau Sri Lanka sudah berhenti beroperasi selamanya dan akan digantikan dengan komplek perumahan modern. Sementara bekas stasiun relay yang dioperasikan dioperasikan Deutsche Welle di Trincomalee di pantai timur pulau Sri Lanka akan mengambil alih peran sebagai pemancar stasiun gelombang pendek. translated by هند


Minggu, 12 Januari 2014

The Early Shortwave Scene in Albania



terima kasih kepada Mr. Adrian Peterspeterson@gmail.com) yang telah memberi saya izin untuk menggunakan artikel dari Wavescan.
Negara modern Albania adalah sebuah negara kecil bergunung-gunung di tepi barat Semenanjung Balkan di Eropa Tenggara. Negara ini memiliki panjang 200 mil dan lebar kurang dari 100 mil dengan bagian yang menghadap ke Laut Adriatik sepanjang 275 mil. Kota terbesar di Albania is adalah  Tirana yang juga merupakan ibukota negara, terletak di tengah negara itu.
Jumlah penduduk Albania sekitar tiga juta dengan bahasa nasional bahasa Albania yang dituturkan dengan 2 dialek utama, Gheg di utara dan Tosk di selatan. Pada suatu ketika bahasa mereka pernah ditulis dalam sejumlah aksara berbeda termasuk Itali, Yunani, Arab, Turki dan Rusia. Mulai tahun 1908 terdapat upaya-upaya untuk menstandarisasi aksara yang digunakan secara nasional dan sekarang  mereka menggunakan aksara Latin dengan tambahan 2 huruf.
 Awalnya Albania dihuni oleh bangsa Illyrian, orang-orang Indo-Eropa yang pindah dari timur sekitar 1.000 tahun sebelum masehi. Pada tahun 167 sebelum masehi tentara Romawi mengambil alih Albania dan menyebarkan peradaban mereka ke seluruh negara selama lebih dari setengah abad; kemudian disusul dengan invasi suku Gothic dari Jerman pada tahun 300an.
Selama berabad-abad setalah masa itu banyak orang dari etnis berbeda telah mendiami wilayah tersebut, meninggalkan jejak mereka pada perkembangan sejarah dan budaya negara itu.  Dalam era modern Albania memperoleh kemerdekaan pada 28 November 1912.  Kini negara tersebut dikunjungi setengah juta wisatawan setiap tahun.
Siaran radio sampai ke Albania pada tahun 1937 ketika sebuah stasiun mediumwave kecil dipasang di Gedung Balai Kota di Tirana. Pemancar 10 watt buatan lokal tersebut dialokasikan untuk frekuensi 1384 kHz. Tiga tahun kemudian sebuah pemancar 1 kW dipasang untuk Radio Tirana.
Pemancar gelombang pendek Tesla 3 kW Tesla yang di rangkai di Prague, Czechoslovakia, dipasang di gedung pemancar yang dibangun secara khusus di pinggir kota Tirana dan stasiun ini diresmikan pada 28 November 28 1938 dengan callsign ZAA. Siaran gelombang pendek mengudara dari studio mediumwave yang berada di Town Hall Municipality Building.
Pemancar gelombang pendek baru itu digunakan untuk menyiarkan siaran radio selama tiga jam setiap hari dan juga (digunakan) untuk komunikasi radio internasional. Pada masa itu stasiun ZAA terkenal dengan transmisi Kode Morse untuk mengadakan kontak dengan stasiun IAC di Italy.
(Siaran) ZAA pertama kali dicatat pada 1 Februari di Australia tahun 1939 ketika stasiun tersebut memancarkan siaran uji coba di 6090 kHz dengan menyiarkan musik dan pengumuman dalam lima bahasa; Albania, Inggris, Perancis, Jerman dan Italy. Dalam bahasa Inggris stasiun tersebut dikenal sebagai Radio Experimental, Tirana, Albania.
Ray Simpson, editor Shortwave Pages di sebuah majalah radio di Australia – Radio & Hobbies, memberitahukan bahwa dia mengirimkan laporan penerimaan siaran ke stasiun gelombang pendek ZAA di kantor Pos & Telegram di Tirana, Albania. Kemudian dia menerima surat QSL yang dikirim hanya beberapa hari sebelum invasi Italy terhadap Albania, yang dimulai pada 7 April 1939. QSL-QSL berikutnya, kemungkinan berupa surat juga diterima oleh para pemantau radio internasional di Amerika Serikat.
Pada masa itu digunakan empat channel, 6090, 7850, dan 9970 kHz, dengan 15765 kHz secara khusus dipancarkan ke Amerika Serikat. Signal pengenalan ketika itu berupa suara lonceng. Selama pendudukan Italy terhadap Albania, stasiun ZAA mengakhiri hari-hari siarannya dengan lagu kebangsaan Italy.
Pencatatan terakhir (siaran) stasiun gelombang pendek ZAA dalam masa perang dijumpai dalam majalah radio yang sama - Radio & Hobbies , dan laporan tersebut berasal dari orang Selandia Baru bernama Arthur Cushen. Dia mendengarkan stasiun tersebut pada Agustus 1940 yang dipancarkan pada frekuensi 7850 kHz . translated by هند