Sabtu, 24 Juli 2010

RFE/RL Marks 60 Years of Fighting for Freedom


RFE/RL Marks 60 Years of Fighting for Freedom

(PRAGUE/WASHINGTON) 4 Juli 1950, Radio Free Europe mengudara untuk
pertama kalinya dengan siaran ke Czechoslovakia dari studio di Empire
State Building New York City. Memulai siaran dengan janji menyampaikan
berita “dalam tradisi Amerika yang bebas bicara.”

4 Juli kali ini, tepat 60 tahun kemudian, RFE/RL menjangkau hampir 20
juta orang dalam 28 bahasa dan 21 negara termasuk Russia, Belarus,
Iran, Iraq, Afghanistan dan Pakistan. Tetap menjadi jalur penghubung
bagi orang-orang yang tinggal di zona perang dan di bawah pemerintah
otoriter yang mencari berita serta informasi akurat dan terpercaya.
Misi kami sangat penting. -- Presiden RFE/RL Jeffrey Gedmin.

Menlu AS Hillary Clinton mengatakan dalam suatu kunjungan ke markas
besar RFE/RL di Prague, “RFE/RL adalah kekuatan yang cerdas.”

The Early Years

Akhir 1954, RFE dan Radio Liberty (RL) melakukan siaran dalam 25
bahasa ke Eropa Timur dan Uni Soviet. Menyajikan “megaphone” dibalik
Tirai Besi melalui para pembangkang -- menolak akses normal ke lokal
media -- yang dapat menjangkau jutaan orang sebangsa tanpa
penyensoran. Bertahun-tahun kemudian, ketika ditanya apakah RFE/RL
memainkan peranan signifikan dalam perjuangan Polandia untuk
kebebasan, penerima Nobel Lech Walesa menjawab, “akankah ada bumi
tanpa matahari?”

Coming of Age

Pada 1968, selama masa periode 7 bulan liberalisasi politik di
Czechoslovakia yang dikenal sebagai Prague Spring, RFE adalah sumber
berita independen yang sangat diperlukan. Dengan kekuasaan Soviet
berada di puncaknya dan pembangkang di bawah tekanan kuat sepanjang
1970 dan 1980-an, misi RFE/RL bertambah penting.
Sebagai mantan presiden Czech Vaclav Hayel mengatakan, “Sepanjang
tahun komunisme, RFE/RL memberikan satu-satunya kesempatan untuk
kebebasan bertukar informasi, kebebasan jurnalisme, dan juga
satu-satunya, atau agaknya, sumber informasi utama bagi komunikasi
antara oposisi dan rakyat. Saya percaya masyarakat kami berhutang budi
yang sangat besar kepada RFE/RL atas peran yang dimainkannya di negara
kami.”

Salah satu indikator kesuksesan RFE/RL selalu sejauh mana pemerintah
otoriter berupaya mengganggu siarannya. Pada 1981, sebuah bom
menyerang markas besar RFE/RL di Munich, melukai beberapa karyawan dan
mengakibatkan kerugian sebesar 2 juta dollar. Arsip polisi rahasia
yang dibuka setelah 1989 mengungkapkan serangan itu diperintahkan
pemimpin Romania Nicolae Causescu dan dilakukan teroris Carlos the
Jackal.

Ketika bencana nuklir Chernobyl terjadi pada 1989, media Soviet
mencoba menyembunyikan bencana itu. Akan tetapi, dalam apa yang
disebut oleh sejarawan Arch Paddington sebagai “momen RFE/RL yang
paling bagus,” organisasi itu mencurahkan dari jam ke jam untuk kisah
bencana tersebut, menyediakan instruksi bagi pendengar  berkenaan
dengan dekontaminasi makanan serta pakaian, dan petunjuk untuk
melindungi anak-anak dari radiasi.

A Continuing Mission

Pada 1994, ketika konflik Balkan meluas, RFE/RL memulai siaran ke
negara-negara bekas Yugoslavia. Selama kampanye udara NATO 1999,
RFE/RL merupakan satu-satunya stasiun yang mengudara pada malam hari
di Serbia. Laporan langsung dari Belgrade, Brussel dan seluruh wilayah
adalah satu-satunya sumber informasi untuk orang-orang yang mencari
berita pengeboman dan informasi keselamatan.

Dalam 15 tahun ini, RFE/RL memperluas jangkauannya ke Afghanistan,
Iran, Iraq dan Kaukasus Utara. Di Afghanistan Radio Azadi merupakan
outlet media terpopuler dan menerima lebih dari 15.000 pucuk “surat
penggemar” dari pendengar, beberapa diantaranya diperlihatkan di
Perpustakaan Konggres pada Maret 2010.
Di Iran, Radio Farda merupakan sumber informasi independen yang
berpengaruh --terutamanya online-- dan memainkan peranan penting
ketika terjadi tindakan keras pemerintah setelah pemilu presiden 2009
yang disengketakan.

Pada Januari 2010, RFE/RL meluncurkan stasiun baru berbahasa Pashto
untuk wilayah kesukuan Pashtun Pakistan guna memberikan alternatif
atas berkembangnya stasiun ekstrimis di wilayah itu. Dan 2 tahun
sebelumya, RFE/RL memulai siaran harian berbahasa Russia ke wilayah
Georgia yang memisahkan diri, Osetia Selatan dan Abkhazia.

“Misi kami sangat penting,” kata Jeffrey Gedmin presiden RFE/RL.
“Meskipun teknologi berubah --kami menambah radio dengan konten
online, video dan televisi-- misi perwakilan siaran tetap sama.
Source: rferl.org
Copyright (c) 2010.
RFE/Rl, Inc. Reprinted with the permission of Radio Free Europe/Radio
Liberty, 1201 Connecticut Ave., N. W. Washington DC 20036.

Senin, 05 Juli 2010

Pemutaran dokumentasi penyiar radio Jepang - AS

Los Angles Downtown News, 1 July 2010:
“Japanese American National Museum hari ini mengumumkan pemutaran sebuah dokumentasi penyiar radio Jepang Amerika pada Perang Dunia II. Film Calling Tokyo akan ditayangkan pada 2 siang 10 Juli di museum. Menceritakan kisah peranan yang dimainkan orang Jepang Amerika sebagai penyiar pemerintah pada masa perang. Sementara pemerintah AS memenjarakan 120.000 orang Amerika keturunan Jepang selama perang, pemerintah juga merekrut sekelompok orang Jepang Amerika untuk menjadi bagian Kantor Informasi Perang (OWI) dan Misi Perang Politik Inggris (BPWM). OWI dan BPWM memproduksi siaran radio shortwave reguler dalam bahasa Jepang dengan harapan meyakinkan para pimpinan politik dan militer Jepang untuk menyerah.”
(Sumber: www.kimandrewelliott.com)

Stasiun berbahasa asing FM Tokai di Jepang terhenti

The Japan Times, 26 June 2010:
“Berita terbaru Aichi International Broadcasting Co. akan menghentikan layanan radio FM-nya pada akhir September karena defisit besar telah menyebabkan gelombang goncangan pada industri di wilayah Tokai. Radio-i yang berbasis di Nagoya, sebagaimana ia dikenal, adalah satu-satunya stasiun FM di Tokai yang menawarkan program-program dalam bahasa Inggris, Jepang, China, Korea, Portugis, Spanyol dan Tagalog. Mulai mengudara pada April 2000, melayani daerah administrasi Aichi, Gifu, Mie dan Shizuoka tapi telah menderita karena menurunnya pendapatan iklan. ... Firma tersebut akan mengembalikan izin siarannya dan melikuidasi diri pada akhir tahun. Biro Telekomunikasi Tokai mengatakan Radio-i akan menjadi yang pertama jatuh diantara stasiun televisi dan radio di Jepang, kecuali bagi stasiun FM berbasis komunitas kecil.” Di AS, stasiun radio etnik berbahasa asing umumnya tidak menjual spot iklan. Sebagai gantinya, mereka menjual waktu ke pembuat program berbahasa asing, yang sebaliknya menjual iklan mereka sendiri atau mencari bantuan keuangan dari pendengar atau yayasan, atau hanya melangsungkan program-programnya sebagai hobi yang mahal.
(Sumber: www.kimandrewelliott.com)

Kuis Belajar Bahasa Jepang

Anda pergi haiking bersama teman2 anda ke pegunungan, anda kemudian beristirahat untuk makan bekal anda, kelompok lainnya juga makan bekal mereka di dekat anda dan mereka kira2 seusia dengan anda, akan lebih menyenangkan tentunya kalau makan bersama.
Ungkapan apa yang paling tepat untuk situasi ini? 

A. Oishi-desu
B. Ganbari-masu
C. ‘Issho-ni tabe-masen-ka’

Kirim jawaban sebelum Rabu terakhir July 2010 dng surat ke Radio Japan NHK World Indonesian Section, Tokyo Japan 150-8001 atau dng email di www.nhk.or.jp/indonesian

Good bye from me and take care!


“The final day,” begitulah hari Rabu 30 Juni 2010 disebut oleh Mr. Seref Isler, suaranya akrab terdengar melalui acara mingguan Letter Box serta acara dwi-mingguan DX Corner di Voice of Turkey. Ia menggambarkan selama keberadaannya di Voice of Turkey sejak 1997 sebagai “great time” sampai akhirnya memberitahu kalau akan beralih ke sebuah stasiun televisi dan harus mengucapkan “good bye from me and take care!” dalam acara Letter Box.”
Saya mengambil kesempatan untuk berterima kasih kepadanya karena membacakan email-email saya dalam kedua acara, memberitahu kalau kedua acara telah dibawakan dengan baik dan saya merasa puas dengan penampilannya, juga berharap agar enjoy dengan pekerjaan barunya) Lebih lanjut ia mengatakan melalui email: 

Hello Hyndun, 

Senang sekali mendengar kata-kata dan komentar-komentar manis anda. Ya saya akan pindah ke Australia untuk 2 tahun jadi saya harus meninggalkan Voice of Turkey. Saya tahu pada akhirnya akan menemukan jalan kembali ke radio internasional, sejak saya sangat menyukai penyiaran radio. Bagaimanapun untuk sekarang, saya memutuskan untuk memperluas horison dalam televisi dan media. Jadi saya akan mencoba hal itu untuk sementara. Terima kasih lagi untuk kata-kata yang sungguh manis itu, dan ketahuilah itu sangat berarti bagi saya. Thanks.

Seref Isler.

VOA STUDIO TOURS OFFER “COOL” RELIEF

Washington, D.C., 30 Juni 2010 - Pengunjung ke Washington D.C. mendapati tur studio Voice of America sebuah kesempatan yang menyenangkan untuk melepaskan diri dari suhu musim panas yang membakar dan mempelajari lebih banyak tentang organisasi penyiaran internasional terbesar di dunia. 

Tur VOA tersebut gratis, ditawarkan dua kali sehari selama bulan-bulan musim panas dan diadakan hanya beberapa menit dari gedung DPR AS serta museum dan landmark Washington.

Pemandu tur memperlihatkan pemandangan di balik layar pada siaran langsung.

Melihat ruang kontrol televisi ketika kru mempersiapkan show dan pembaca berita membaca dari studio telepromters, serta melihat presentasi “Omniglobe” kami yang mempesona.

Anda akan melihat reporter dan penulis berita mempersiapkan cerita-cerita dari salah satu pusat berita multimedia internasional yang terbesar dan paling modern di dunia. Dan mendengar penyiar radio serta produser ketika mereka siaran langsung untuk menyampaikan berita terbaru kepada audiens seluruh dunia.

“Berada di VOA dan melihat bagaimana orang-orang membuat perbedaan secara global adalah pengalaman yang sangat berharga,” kata Jeyhun, pengunjung dari Kazakhstan. Kate dari San Diego, California, mengatakan, “Ini adalah tur yang paling sesungguhnya selama saya berada di D.C.” (Sumber: VOA Press Release)

Sabtu, 03 Juli 2010

Jaringan Seluler di Indonesia Timur Belum Maksimal


Jaringan Seluler di Indonesia Timur Belum Maksimal
Jaringan seluler di hampir 60 persen wilayah di Indonesia bagian timur perlu diperkuat. Pemerintah mendorong operator-operator seluler untuk memperkuat jaringannya di wilayah ini sebagai salah satu upaya pemerataan pembangunan di Indonesia.
Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Budi Setiawan, mengatakan hal ini usai menghadiri acara peresmian Base Station Controllers (BSC) milik PT XL Axiata, di Kayu Tiga, Ambon, Maluku, Jumat (2/7/2010). Hadir pula dalam acara itu Presiden Direktur PT XL Hasnul Suhaimi dan staf ahli Gubernur Maluku bidang ekonomi dan keuangan Ujir Halid.
Budi mengakui besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun sarana dan prasarana bagi penguatan atau perluasan jaringan di Indonesia bagian timur memang menjadi kendala utama operator seluler. Apalagi hal itu tidak dibarengi dengan keuntungan yang menjanjikan.
Hasnul Suhaimi membenarkan sulitnya memperluas jaringan di Indonesia timur. Oleh karena itu, perluasan jaringan memperhatikan pula potensi pasar di wilayah tersebut. "Jika tidak ada pesaing operator lain, perluasan jaringan ke wilayah itu bisa dilakukan," tambahnya.
Sebagai contoh pembangunan Base Transceiver Station (BTS) di Pulau Banda, Maluku dan Pulau Gersik, Belitung, Provinsi Bangka Belitung yang peresmiannya dilakukan kemarin bersamaan dengan peresmian BSC di Ambon. BTS XL juga tersebar di pulau-pulau kecil di Saparua, Haruku, dan Seram. Di Maluku, terdapat 20 BTS milik XL dengan satu BSC.
Secara keseluruhan, jaringan XL kini diperkuat dengan 20.705 BTS yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga kini, XL memiliki pelanggan 35 juta orang atau meningkat sekitar 3,5 juta orang dibandingkan jumlah pelanggan tahun 2009. Jumlah 35 juta orang itu telah melebihi target yang dibuat XL untuk tahun 2010, sehingga XL merevisi targetnya memiliki 38 juta pelanggan hingga akhir tahun 2010. (Sumber : Kompas.com)